Rukhsah dalam Haji: Artinya, Contoh, Hingga Himbauan Kemenag

Rukhsah dalam Haji: Artinya, Contoh, Hingga Himbauan Kemenag

Islam memberikan keringanan, atau yang dikenal dengan rukhsah, untuk memudahkan umatnya dalam melaksanakan ibadah, termasuk haji. Rukhsah dalam haji berkaitan dengan tata cara ibadah yang dilakukan di Tanah Suci.

Menurut buku Menuju Umrah dan Haji Mabrur karya H. Syaiful Alim, Lc, rukhsah atau takhfif adalah bentuk keringanan dalam ibadah yang berlandaskan pada prinsip-prinsip hukum Islam, yaitu mengurangi atau menghilangkan kesulitan. Prinsip ini menghasilkan kaidah fiqh al-masyaqqah tajlibut taisir, yang berarti “kesulitan membawa kemudahan.” Rukhsah menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang tidak ingin memberatkan umatnya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran.

هُوَ اجْتَبٰىكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍۗ

“Allah telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama.” (QS. Al-Hajj: 78)

Lantas, rukhsah apa saja yang ada dalam ibadah haji? Berikut penjelasannya.

Pengertian Rukhsah dalam Haji

Secara bahasa, rukhsah berarti “keringanan.” Sedangkan secara istilah, rukhsah adalah ketetapan yang diberikan Allah sebagai kemudahan khusus bagi umat Islam.

Dalam buku Ensiklopedia Fiqih Haji dan Umrah oleh Gus Arifin, rukhsah diberikan ketika terdapat halangan berat (udzur syar’i) seperti dalam keadaan sakit, bepergian, lupa, atau menghadapi kesulitan lain. Beberapa faktor yang melandasi rukhsah meliputi perjalanan jauh, sakit, paksaan, atau kekurangan daya dan akal.

Haji sendiri terdiri dari rangkaian ibadah yang mungkin berat bagi sebagian orang, seperti lansia, ibu hamil, atau orang dengan keterbatasan fisik. Oleh karena itu, Allah memberikan rukhsah bagi mereka yang memenuhi syarat tertentu.

Contoh Rukhsah dalam Haji bagi Lansia

Berikut adalah beberapa bentuk keringanan (rukhsah) yang diberikan kepada jamaah haji lanjut usia, berdasarkan panduan dalam buku Solusi Hukum Manasik Jamaah Udzur oleh Ahmad Kartono, serta buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah untuk Lansia yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI.

Niat Ihram Bersyarat

Untuk jamaah haji lansia atau yang memiliki kondisi fisik lemah, disarankan melakukan niat ihram dengan bersyarat. Langkah ini bertujuan untuk mengantisipasi jika terjadi kendala selama menjalankan ibadah haji.

Niat ihram bersyarat atau isytirat memungkinkan jamaah membatalkan ihram jika mereka menghadapi kesulitan, seperti yang dijelaskan oleh Ibn Qudamah dalam al-Mughni. Manfaatnya adalah, pertama, jika jamaah mengalami hambatan seperti sakit atau kehabisan bekal, mereka dapat melakukan tahallul. Kedua, jika tahallul dilakukan dengan niat bersyarat, mereka tidak diwajibkan membayar denda (dam) atau berpuasa.

Contoh dari niat ihram bersyarat ini bisa dilihat pada kisah Nabi Muhammad SAW dengan Dhuba’ah binti Zubair, seperti diriwayatkan dalam hadits oleh Bukhari dan Muslim.

Dibolehkan Thawaf saat Najis

Jamaah haji lansia yang menderita kondisi seperti wasir, inkontinensia urin, atau istihadhah dapat tetap melaksanakan thawaf, dan ibadah tersebut tetap dianggap sah tanpa ada sanksi.

Thawaf dengan Bantuan Kursi Roda atau Skuter

Menggunakan kursi roda atau skuter untuk thawaf diperbolehkan bagi jamaah yang uzur, termasuk lansia. Beberapa mazhab, seperti Syafi’i dan Hanafi, membolehkan penggunaan kendaraan bagi mereka yang membutuhkan. Namun, mazhab Hanafi hanya membolehkan berjalan kaki jika tanpa uzur, dan mazhab Maliki umumnya tidak mengizinkan penggunaan kendaraan kecuali ada alasan khusus.

Tidak Harus Salat Setiap Waktu di Masjidil Haram

Jamaah lansia, yang memiliki kondisi fisik atau risiko tinggi, tidak diharuskan melaksanakan salat di Masjidil Haram setiap waktu. Mereka diperbolehkan salat di hotel atau masjid terdekat di sekitar Tanah Haram, karena pahala salat di seluruh Makkah sama dengan salat di Masjidil Haram. Hal ini dijelaskan dalam kitab Akhbaru Makkah oleh Ibnu Abbas.

Keringanan dalam Melakukan Sa’i

Jika jamaah haji tidak mampu melakukan tujuh kali perjalanan sa’i karena kondisi fisik, Imam Hanafi menyebutkan bahwa jika mereka menyelesaikan minimal empat kali perjalanan, haji tetap sah dengan kewajiban membayar denda. Namun, jika hanya tiga kali atau kurang, mereka wajib membayar fidyah per satu perjalanan.

Tidak Diwajibkan Mabit di Muzdalifah dan Mina

Kewajiban mabit di Muzdalifah dan Mina dapat ditiadakan untuk jamaah lansia yang memiliki kondisi tertentu. Meski mabit merupakan bagian dari wajib haji, beberapa keadaan seperti kemacetan parah atau kondisi kesehatan dapat menjadi alasan untuk meninggalkannya, sebagaimana diterangkan dalam kitab Al Kafi oleh Imam Nawawi.

Dibolehkan Mewakilkan Lontar Jumrah

Kewajiban melontar jumrah dapat diwakilkan untuk jamaah lansia. Keluarga atau pendamping dapat melakukannya atas nama jamaah yang tidak mampu, dengan syarat bahwa si wakil melontar untuk dirinya sendiri terlebih dahulu sebelum mewakili.

Tidak Diwajibkan Thawaf Wada’

Bagi jamaah lansia, kewajiban thawaf wada’ atau thawaf perpisahan dapat ditiadakan. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menyebutkan pengecualian untuk orang-orang yang memiliki kendala, seperti wanita yang mengalami haid atau orang dengan kondisi fisik tertentu.

Himbauan Kemenag bagi Lansia terkait Rukhsah dalam Haji

By Kemenag

Pada musim haji tahun 1445 H/2024 M, hampir 45 ribu jamaah haji berusia 65 tahun ke atas, sekitar 21% dari kuota haji reguler, mengikuti ibadah ini. Kementerian Agama (Kemenag) pun mengusung tema Haji Ramah Lansia guna memberikan pelayanan terbaik bagi mereka.

Widi Dwinanda, perwakilan dari Media Center Kemenag, mengungkapkan bahwa dalam buku panduan yang diterbitkan Kemenag, terdapat berbagai kemudahan bagi jamaah lansia. Salah satu contohnya adalah membolehkan mereka salat di hotel atau masjid terdekat dan tetap mendapatkan pahala yang setara dengan salat di Masjidil Haram.

Kemudahan lain adalah boleh diwakilkan dalam melontar jumrah jika jamaah lansia tidak mampu melakukannya sendiri. Thawaf Ifadhah, yang merupakan rukun haji, juga dapat dilakukan dengan bantuan kursi roda atau skuter. Dengan adanya rukhsah ini, Widi berharap agar jamaah lansia dapat menjalankan ibadah haji dengan aman, nyaman, dan khusyuk.

Yuk nikmati ibadah haji yang khusyuk dan nyaman dengan Paket Haji Arrayyan Al Mubarak, pilihan tepat untuk jamaah lansia dan mereka yang membutuhkan fasilitas khusus. Arrayyan Al Mubarak hadir untuk memastikan perjalanan haji Anda tetap lancar, aman, dan sesuai dengan kebutuhan Anda.

Perbedaan Antara Haji dan Umroh Adalah Apa? Ini 10 Bedanya!

Perbedaan Antara Haji dan Umroh Adalah Apa? Ini 10 Bedanya!

Ketika berbicara tentang ibadah haji dan umroh, banyak umat Islam yang sering kali bingung harus mendahulukan yang mana. Faktanya, meskipun keduanya dilakukan di tempat yang sama, haji dan umroh memiliki banyak perbedaan dalam hal hukum, waktu pelaksanaan, penyelenggara, hingga biayanya. Untuk membantu kamu memahami dan memutuskan mana yang sebaiknya dilakukan terlebih dahulu, mari kita ulas perbedaan umroh dan haji secara mendalam. Berikut adalah pembahasan lengkap 10 perbedaan haji dan umroh beserta tips-tips persiapan untuk kedua ibadah ini.

1. Hukum Haji & Umroh

Berdasarkan nu.or.id, haji merupakan kewajiban yang tergolong dalam perkara al-mujma’ alaihi al-ma’lum min al-din bi al-dlarurah (yang hukumnya telah disepakati oleh seluruh mazhab dan diketahui secara luas oleh berbagai kalangan, baik awam maupun ahli agama). Oleh karena itu, seseorang yang menolak kewajiban haji dianggap murtad (keluar dari Islam), kecuali jika orang tersebut sangat awam dan tidak memiliki akses terhadap informasi keagamaan (Syekh Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 2: 206).

Sementara itu, berdasarkan baznas.go.id,hukum umrah masih diperdebatkan di kalangan ulama. Berdasarkan pendapat yang lebih kuat (al-adhhar), umrah dihukumi wajib. Namun, menurut pandangan muqabil al-adhhar (pendapat yang lebih lemah), hukum umrah adalah sunnah (Syekh Muhammad al-Zuhri al-Ghamrawi, al-Siraj al-Wahhaj, hal.151).

2. Rukun Haji dan Umroh

Perbedaan antara haji dan umroh terletak pada rukunnya. Aspek rukun atau syarat sahnya ibadah juga berbeda antara haji dan umroh. Berdasarkan baznas.go.id, rukun haji terdiri dari lima hal, yaitu:

  • Niat ihram (niat untuk memulai ibadah)
  • Wukuf di Arafah (berdiam di padang Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah)
  • Tawaf (mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali)
  • Sa’i (berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah)
  • Tahallul (memotong rambut sebagai tanda selesai ihram)

Sedangkan untuk umroh, berdasarkan nu.or.id, rukun-rukunnya mirip dengan rukun ibadah haji, namun tidak mencakup wukuf di Arafah. Jadi, jamaah umroh hanya perlu melaksanakan niat ihram, tawaf, sa’i, dan tahallul. Jadi, perbedaan antara haji dan umroh terletak pada rukunnya yaitu tidak adanya wukuf di arafah untuk umroh.

3. Waktu Pelaksanaan Haji & Umrah

Beda umroh dan haji berikutnya terletak pada waktu pelaksanaan. Berdasarkan nu.or.id, haji hanya bisa dilakukan pada waktu yang sudah ditetapkan, yaitu mulai tanggal 1 Syawal hingga 10 Dzulhijjah setiap tahunnya. Berdasarkan baznas.go.id, waktu puncak pelaksanaan haji adalah pada hari raya Idul Adha.

Sementara itu, berdasarkan bpkh.go.id, umroh bisa dilakukan kapan saja sepanjang tahun, kecuali pada tanggal 10 Dzulhijjah dan hari-hari Tasyrik (11-13 Dzulhijjah), yang dikhususkan untuk ibadah haji. Fleksibilitas waktu ini membuat umroh lebih mudah dilakukan kapan pun sesuai dengan kesiapan jamaah.

4. Lokasi Pelaksanaan Haji & Umrah

Beda haji dan umroh lainnya adalah lokasi pelaksanaan. Meskipun haji dan umroh sama-sama dilakukan di Tanah Suci, keduanya memiliki perbedaan dalam hal lokasi pelaksanaan. Ibadah haji tidak hanya dilakukan di Makkah, tetapi juga melibatkan beberapa lokasi lainnya di luar Makkah, seperti:

  • Wukuf di Arafah
  • Mabit di Muzdalifah (bermalam di Muzdalifah)
  • Lempar jumrah di Mina

Sementara itu, umroh hanya dilakukan di Makkah, dengan serangkaian ibadah di Masjidil Haram, tanpa melibatkan lokasi di luar Makkah seperti Arafah, Muzdalifah, atau Mina. Karena itu, umroh cenderung lebih sederhana dalam hal mobilitas jamaah.

5. Durasi Pelaksanaan Haji dan Umrah

Durasi pelaksanaan haji jauh lebih panjang dibandingkan umroh. Berdasarkan bpkh.go.id, secara teknis, ibadah haji memerlukan waktu sekitar 4 hingga 5 hari untuk diselesaikan, namun bagi jamaah asal Indonesia, total perjalanan haji bisa mencapai 40 hari. Durasi panjang ini disebabkan adanya berbagai rangkaian kegiatan seperti ziarah ke Madinah dan mengikuti Arbain (shalat berjamaah 40 waktu di Masjid Nabawi).

Sebaliknya, berdasarkan bpkh.go.id, umroh memiliki durasi yang jauh lebih singkat. Secara umum, ibadah umroh bisa diselesaikan dalam waktu 2-3 jam saja. Namun, jamaah umroh dari Indonesia biasanya mengambil paket umroh yang durasinya antara 9 hingga 12 hari, termasuk waktu perjalanan dan kunjungan ke tempat-tempat bersejarah di Makkah dan Madinah.

6. Penyelenggara Umrah dan Haji

Perbedaan umroh dan naik haji lainnya terletak pada siapa yang menyelenggarakan perjalanan ibadah ini. Berdasarkan kemenag.go.id, ibadah haji reguler diselenggarakan oleh Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Penyelenggara Haji dan Umroh (Ditjen PHU). Sedangkan haji furoda dan ONH plus (paket haji khusus) diselenggarakan oleh PIHK (Penyelenggara Ibadah Haji Khusus), yang biasanya merupakan agen travel yang sudah bekerja sama dengan pemerintah.

Di sisi lain, berdasarkan kemenag.go.id, umroh diselenggarakan sepenuhnya oleh agen travel resmi yang telah memiliki izin dari pemerintah. Agen travel ini bertindak sebagai Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) dan bertanggung jawab mengatur semua kebutuhan perjalanan jamaah umroh.

7. Biaya Umrah dan Haji

Karena durasi dan skala pelaksanaan yang berbeda, biaya yang dibutuhkan untuk haji dan umroh juga berbeda. Haji memiliki biaya yang lebih besar dibandingkan umroh, terutama jika kamu memilih paket haji plus atau furoda. Berdasarkan baznas.go.id, biaya haji reguler per jemaah tahun 1445 H/2024 M sebesar Rp93.410.286, yang disubsidi oleh pemerintah Indonesia saat ini berada di Rp 37.364.114, sedangkan haji plus dan furoda bisa mencapai lebih dari Rp100 juta.

Sementara itu, biaya umroh relatif lebih terjangkau. Harga paket umroh rekomendasi kemenag dimulai dari Rp29 juta, tergantung pada pilihan agen travel, durasi perjalanan, dan fasilitas yang diberikan. Biaya umroh cenderung lebih bervariasi dan fleksibel dibandingkan haji.

8. Kewajiban dalam Umrah dan Haji

Berdasarkan nu.or.id, dalam ibadah haji, terdapat lima kewajiban yang harus dilaksanakan oleh jamaah:

  • Niat ihram
  • Mabit di Muzdalifah
  • Mabit di Mina
  • Melempar jumrah
  • Thawaf Wada’ (thawaf perpisahan)

Sedangkan dalam umroh, berdasarkan nu.or.id, hanya ada dua kewajiban yang harus dipenuhi, yaitu niat ihram dari miqat dan menjauhi semua larangan ihram. Meninggalkan salah satu dari kewajiban ini dalam kedua ibadah tersebut mengharuskan jamaah untuk membayar denda atau melakukan dam.

9. Persiapan

Perbedaan ibadah haji dan umroh ada pada persiapannya juga. Haji adalah ibadah wajib bagi setiap Muslim yang mampu secara finansial dan fisik, dan hanya dilakukan sekali seumur hidup. Oleh karena itu, persiapannya lebih mendalam, meliputi pemahaman yang detail tentang rukun serta syarat-syarat Haji, ditambah dengan kesiapan fisik dan mental yang lebih intensif.

Di sisi lain, Umroh tidak diwajibkan dan bisa dilakukan kapan saja sepanjang tahun, kecuali pada bulan Dzulhijjah saat Haji berlangsung. Karena sifatnya yang lebih fleksibel, persiapan untuk Umroh umumnya lebih santai dan tidak seberat Haji, meskipun tetap memerlukan perencanaan yang matang.

10. Doa dan Zikir

Doa dan zikir dalam Haji dan Umroh juga memiliki perbedaan tersendiri. Selama Haji, doa dan zikir lebih terfokus pada penghayatan makna ibadah dan permohonan ampunan. Sementara dalam Umroh, doa dan zikir bisa lebih bervariasi dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pribadi masing-masing.

Demikian penjelasan perbedaan haji dan umroh. Penjelasan di atas dapat menjawab beberapa pertanyaan internet, seperti: apakah perbedaan haji dan umroh, apa bedanya haji dan umroh, apa perbedaan umroh dan haji, apa bedanya umroh dan haji, jelaskan 7 perbedaan haji dan umroh, jelaskan perbedaan antara haji dan umroh, perbedaan rukun haji dan umroh, apakah perbedaan antara haji dan umroh, apa perbedaan antara haji dan umroh, jelaskan 3 perbedaan haji dan umroh, jelaskan 5 perbedaan haji dan umroh, jelaskan 4 perbedaan haji dan umroh, perbedaan haji dan umroh adalah apa, dan perbedaan haji dan umroh terletak pada apa.

Dengan memahami perbedaan ketentuan haji dan umroh serta mempersiapkan diri dengan matang, kamu dapat menjalankan ibadah di Tanah Suci dengan khusyuk dan penuh berkah. Demikian pembahasan terkait perbedaan haji dan umroh. Bila kamu ingin umroh dan haji, yuk pilih paket umroh dan paket haji dari kami. Dapatkan pelayanan, destinasi, dan akomodasi terbaik dari Arrayyan Al Mubarak.

Doa Melihat Ka’bah Sesuai Sunnah dan Artinya

Doa Melihat Ka’bah Sesuai Sunnah dan Artinya

Ka’bah adalah kiblat bagi umat Islam di seluruh dunia dan pusat spiritual yang sangat istimewa. Ketika seseorang melakukan ibadah haji atau umroh, momen pertama kali melihat Ka’bah menjadi saat yang sangat emosional dan menggetarkan hati. Dalam momen sakral ini, dianjurkan untuk berdoa memohon kepada Allah SWT karena doa saat pertama kali melihat Ka’bah memiliki keutamaan yang besar. Beberapa ulama bahkan mengatakan bahwa doa di momen ini memiliki kemungkinan besar untuk dikabulkan.

Doa Melihat Ka’Bah

Dalam artikel Arrayyan Al Mubarak ini, kita akan membahas doa-doa yang dianjurkan ketika melihat Ka’bah sesuai sunnah, terutama dua doa penting: doa memohon agar segala hajat dikabulkan dan doa untuk meminta keselamatan. Mari kita bahas satu per satu beserta artinya.

1. Doa Dikabulkan Segala Hajat

Ketika pertama kali melihat Ka’bah, sangat dianjurkan untuk berdoa kepada Allah SWT dan memohon agar segala keinginan atau hajat kita dikabulkan. Ini adalah waktu yang sangat istimewa karena hati sedang fokus dan dekat dengan Allah SWT. Selain itu, kehadiran di tempat suci ini menjadi pengingat bahwa segala sesuatu di dunia ini bergantung kepada-Nya.

Doa dikabulkan segala hajat:

اللهمَّ زِدْ هذا البيتَ تشريفًا وتَكريمًا وتعظيمًا ومَهابةً، وزِدْ من شرَّفه وكرَّمه ممن حجَّه واعتمرَه تشريفًا وتَكريمًا وتعظيمًا وبرًّا

Lafaz doa di atas bermakna:

“Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, kehormatan, keagungan, dan kewibawaan pada rumah-Mu ini (Ka’bah), serta tambahkanlah pula kemuliaan, kehormatan, dan kebajikan bagi orang-orang yang memuliakannya, baik yang berhaji maupun yang berumroh.”

Doa ini tidak hanya memohon agar Allah SWT mengabulkan hajat kita, tetapi juga agar Ka’bah terus menjadi sumber kemuliaan dan keberkahan bagi seluruh umat Islam. Selain itu, doa ini juga menunjukkan betapa pentingnya Ka’bah dalam kehidupan spiritual kita sebagai Muslim. Mengucapkan doa ini dapat membantu kita memfokuskan diri pada niat untuk beribadah dengan ikhlas dan memohon agar keinginan kita disampaikan langsung kepada Allah SWT.

2. Doa Diberikan Keselamatan

Keselamatan dalam perjalanan spiritual dan kehidupan sehari-hari adalah anugerah yang sangat penting. Dalam Islam, keselamatan tidak hanya mencakup keselamatan fisik tetapi juga keselamatan dari dosa, keburukan, dan kesulitan hidup. Ketika kita melihat Ka’bah, memohon keselamatan menjadi salah satu doa yang sangat dianjurkan. Ini juga merupakan cara untuk memohon perlindungan Allah SWT agar selalu diberikan ketenangan dan ketentraman dalam menjalani hidup.

Doa meminta keselamatan:

اللهمَّ أنتَ السَّلامُ ومِنكَ السَّلامُ فحَيِّنا رَبَّنا بالسَّلامِ وأدخِلْنا دارَ السَّلامِ تبارَكتَ وتعالَيتَ يا ذا الجلالِ والإكرامِ

Artinya:

“Ya Allah, Engkau adalah Dzat yang Maha Pemberi Keselamatan, dan dari-Mu keselamatan itu berasal. Maka, hidupkanlah kami, wahai Tuhan kami, dengan keselamatan, dan masukkanlah kami ke dalam tempat yang penuh keselamatan (surga). Engkau Maha Suci dan Maha Luhur, wahai Dzat yang Maha Memiliki Keagungan dan Kemuliaan.”

Doa ini mengandung harapan dan permohonan agar kita selalu diberikan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan mengucapkan doa ini saat melihat Ka’bah, kita memohon kepada Allah SWT agar selalu berada dalam perlindungan-Nya dan dijauhkan dari segala mara bahaya. Ini juga merupakan pengingat untuk selalu memelihara iman dan ketaqwaan dalam setiap langkah hidup.

3. Keutamaan Doa Saat Melihat Ka’bah

Doa saat pertama kali melihat Ka’bah memiliki keutamaan yang sangat besar. Berdasarkan beberapa riwayat, momen ini adalah salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa. Ka’bah sebagai pusat spiritual umat Islam membawa makna yang sangat mendalam dalam kehidupan seorang Muslim. Ka’bah bukan hanya sebagai arah kiblat, tetapi juga simbol persatuan umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, memohon kepada Allah SWT di momen ini merupakan cara untuk menyambung hati dengan Sang Pencipta secara lebih mendalam.

Ka’bah merupakan simbol persatuan dan pusat spiritual bagi umat Islam di seluruh dunia. Melihat Ka’bah pertama kali menjadi momen sakral yang penuh keutamaan, di mana doa kita memiliki kemungkinan besar untuk dikabulkan oleh Allah SWT. Dua doa yang dianjurkan saat melihat Ka’bah adalah doa agar segala hajat dikabulkan dan doa meminta keselamatan. Semoga kita semua selalu diberikan kesempatan untuk menunaikan haji atau umroh dan merasakan kedekatan dengan Allah SWT di depan Ka’bah yang mulia.

Bagi Anda yang berencana untuk melaksanakan ibadah umroh, percayakan perjalanan suci Anda bersama Arrayyan Al Mubarak, travel umroh terbaik yang selalu mengutamakan kenyamanan dan keamanan jamaah umrah. Dengan paket umroh yang lengkap, pelayanan terbaik, dan harga yang terjangkau, Arrayyan Al Mubarak siap menjadi sahabat ibadah Anda menuju Tanah Suci. Jangan ragu, yuk segera daftarkan diri Anda sekarang dan rasakan pengalaman spiritual yang tak terlupakan!

Hajar Aswad: Sejarah, Letak, hingga Keutamaan

Hajar Aswad: Sejarah, Letak, hingga Keutamaan

Hajar Aswad merupakan salah satu peninggalan suci yang sangat dihormati dalam Islam. Bagi umat Muslim, keberadaannya memiliki makna spiritual yang mendalam, terutama terkait dengan pelaksanaan ibadah haji dan umrah di Masjidil Haram, Mekkah. Batu ini memiliki sejarah panjang dan keutamaan yang menjadikannya salah satu simbol penting dalam agama Islam.

Apa Itu Hajar Aswad?

Hajar Aswad adalah sebuah batu hitam yang ditempatkan di sudut timur Ka’bah, bangunan paling suci dalam Islam. Secara harfiah, “Hajar Aswad” berarti “Batu Hitam” dalam bahasa Arab. Batu ini bukanlah sembarang batu, melainkan dianggap sebagai tanda fisik dari rahmat Allah yang dikirim ke bumi sebagai panduan bagi umat manusia. Dalam tradisi Islam, Hajar Aswad dipandang sebagai batu yang berasal dari surga dan diletakkan di bumi oleh Nabi Ibrahim AS ketika membangun Ka’bah bersama putranya, Nabi Ismail AS.

Bagi para jamaah haji dan umrah, menyentuh atau mencium Hajar Aswad merupakan salah satu sunnah yang sangat dianjurkan selama menjalankan tawaf. Namun, karena jumlah jamaah yang sangat banyak, tidak semua orang bisa melakukannya, sehingga mereka cukup memberikan isyarat dari jauh. Batu ini diyakini sebagai simbol perjanjian antara manusia dan Allah, mengingatkan umat Muslim akan pentingnya ketakwaan dan ketaatan dalam menjalankan ajaran agama.

Bentuk dan Letak Hajar Aswad

Hajar Aswad terletak di sudut timur Ka’bah, sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah. Batu ini terdiri dari beberapa bagian kecil yang disatukan dengan bingkai perak untuk melindunginya dari kerusakan lebih lanjut. Bingkai perak tersebut dipasang oleh Khalifah Abdullah bin Zubair, seorang pemimpin Islam yang memerintah di era awal kekhalifahan Islam.

Batu ini memiliki bentuk bulat tidak sempurna dengan warna yang dominan hitam keabu-abuan. Namun, ada bagian Hajar Aswad yang berwarna kemerah-merahan dan terlihat lebih terang. Awalnya, Hajar Aswad memiliki ukuran yang lebih besar, tetapi seiring berjalannya waktu dan karena berbagai insiden sejarah, batu ini mengalami kerusakan dan ukurannya mengecil. Saat ini, hanya tersisa delapan pecahan kecil yang masih bisa dilihat oleh para jamaah.

Letaknya di sudut Ka’bah menjadi salah satu alasan mengapa Hajar Aswad sangat dihormati. Setiap kali jamaah melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah, mereka memulai dan mengakhiri putaran dari sudut Hajar Aswad. Dengan demikian, Hajar Aswad menjadi titik awal dan akhir dalam ritual tawaf, yang memperkuat peran pentingnya dalam ibadah haji dan umrah.

Sejarah Hajar Aswad

Sejarah Hajar Aswad penuh dengan makna dan peristiwa penting dalam perjalanan spiritual umat Islam. Menurut riwayat, Hajar Aswad pertama kali ditemukan oleh Nabi Ibrahim AS ketika beliau sedang membangun Ka’bah bersama Nabi Ismail AS. Batu ini dipercaya berasal dari surga dan awalnya berwarna putih. Namun, dosa-dosa manusia menyebabkan warnanya berubah menjadi hitam, sebagaimana yang terlihat saat ini.

Selama berabad-abad, Hajar Aswad mengalami berbagai peristiwa yang mempengaruhi keadaannya. Salah satu peristiwa yang paling terkenal adalah ketika Ka’bah dihancurkan oleh banjir pada zaman Jahiliyah. Pada saat itu, bangunan Ka’bah harus dibangun kembali, dan para pemimpin suku Quraisy berdebat mengenai siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad kembali ke tempatnya. Akhirnya, mereka sepakat untuk meminta Nabi Muhammad SAW memutuskan. Dengan kebijaksanaannya, beliau meletakkan Hajar Aswad di atas sehelai kain, dan semua pemimpin suku memegang kain tersebut bersama-sama, sehingga tidak ada yang merasa dilewati.

Selain itu, Hajar Aswad juga pernah dicuri oleh sekte Qarmatians pada abad ke-10. Sekte ini menyerang Mekkah, menjarah Ka’bah, dan membawa Hajar Aswad ke wilayah mereka. Batu suci tersebut hilang selama lebih dari 20 tahun, hingga akhirnya dikembalikan ke tempat asalnya. Selama pencurian ini, Hajar Aswad mengalami kerusakan, dan saat dikembalikan, kondisinya sudah tidak utuh lagi.

Seiring dengan perjalanan waktu, Hajar Aswad terus menjadi simbol penting bagi umat Muslim. Keberadaannya di Ka’bah menjadi pengingat akan sejarah panjang perjuangan umat Islam dalam menjaga kesucian tempat-tempat ibadah mereka. Setiap kali jamaah melakukan tawaf, Hajar Aswad menjadi penghubung antara sejarah, ibadah, dan keimanan mereka kepada Allah.

Keutamaan Hajar Aswad

Keutamaan Hajar Aswad dalam Islam sangat besar. Bukan hanya karena letaknya di Ka’bah, tetapi juga karena berbagai hadis yang menyebutkan keutamaan dan pentingnya batu ini bagi umat Muslim. Salah satu hadis yang masyhur adalah bahwa Hajar Aswad berasal dari surga dan awalnya berwarna putih, tetapi berubah menjadi hitam karena dosa-dosa manusia. Hadis ini menekankan makna simbolis dari Hajar Aswad sebagai pengingat bagi umat Muslim tentang pentingnya bertaubat dan menjaga kesucian hati.

Hajar Aswad juga disebut sebagai “tangan kanan Allah di bumi.” Hal ini mengisyaratkan bahwa mencium atau menyentuh Hajar Aswad seolah-olah adalah bentuk perjanjian antara manusia dan Allah, simbol dari keinginan untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Meskipun tidak diwajibkan dalam pelaksanaan tawaf, banyak jamaah yang berusaha mencium Hajar Aswad karena keutamaan spiritual yang terkandung di dalamnya.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Demi Allah, Hajar Aswad akan datang pada Hari Kiamat dengan dua mata yang dapat melihat dan lidah yang dapat berbicara. Ia akan memberikan kesaksian atas siapa saja yang menyentuhnya dengan ikhlas.” Hadis ini menunjukkan bahwa Hajar Aswad bukanlah sekadar batu biasa, melainkan sebuah entitas yang memiliki peran khusus pada Hari Kiamat sebagai saksi bagi orang-orang yang telah menghormatinya.

Selain itu, Hajar Aswad juga dianggap sebagai salah satu syiar Allah, yang di dalamnya terkandung banyak keberkahan. Dengan menyentuh atau mencium Hajar Aswad, umat Muslim diingatkan untuk memperbaharui tekad mereka dalam menjalankan perintah Allah dan menjaga ketaatan kepada-Nya. Batu ini menjadi simbol persatuan umat Muslim di seluruh dunia, karena setiap orang yang berhaji atau umrah memiliki tujuan yang sama, yaitu mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah di Masjidil Haram.

Hajar Aswad memiliki makna yang mendalam dalam Islam, baik dari segi sejarah, letak, bentuk, hingga keutamaannya. Sebagai salah satu bagian dari Ka’bah yang paling dihormati, Hajar Aswad menjadi simbol perjanjian antara manusia dan Allah, mengingatkan umat Muslim akan pentingnya taubat, ketaatan, dan kesucian hati. Keberadaan Hajar Aswad di Ka’bah menghubungkan umat Muslim dengan sejarah panjang Islam dan memberikan keberkahan spiritual bagi siapa saja yang menyentuhnya.

Untuk dapat keutamaan ketika di Hajar Aswad, memerlukan perencanaan ibadah haji dan umrah yang tepat, tidak terkecuali agen travelnya. Arrayyan Al Mubarak menawarkan berbagai pilihan paket dengan jadwal keberangkatan yang fleksibel. Pilih paket umrah dan haji yang sesuai dengan kebutuhan dan budget Anda. Segera wujudkan ibadah umrah dan haji Anda bersama kami!

Mengenal Apa Itu Ka’bah, Sejarah, Isi, dan Keutamaannya

Mengenal Apa Itu Ka’bah, Sejarah, Isi, dan Keutamaannya

Ka’bah merupakan bangunan suci yang menjadi pusat ibadah umat Islam di seluruh dunia. Setiap hari, jutaan Muslim menghadap Ka’bah dalam sholatnya, dan setiap tahun, jutaan orang mengunjungi Ka’bah saat melaksanakan ibadah haji dan umroh. Namun, apa sebenarnya Ka’bah itu, bagaimana sejarahnya, dan apa saja keutamaannya? Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang Ka’bah, mulai dari pengertian, sejarah, isi, hingga keutamaannya.

Apa Itu Ka’bah?

Ka’bah adalah sebuah bangunan kubus yang terletak di tengah Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi. Bangunan ini merupakan kiblat bagi umat Islam, arah yang mereka hadapi saat menunaikan salat di seluruh dunia. Ka’bah memiliki ukuran sekitar 12 x 10 meter dengan tinggi 15 meter. Dindingnya dilapisi oleh kain hitam yang disebut Kiswah, yang dihiasi dengan kaligrafi ayat-ayat Al-Quran berwarna emas.

Ka’bah disebut juga sebagai “Baitullah” atau “Rumah Allah”, meskipun bukan berarti Allah tinggal di dalamnya. Sebutan tersebut menggambarkan Ka’bah sebagai tempat yang dikhususkan untuk beribadah kepada Allah. Dalam ajaran Islam, Ka’bah merupakan bangunan pertama yang didirikan untuk menyembah Allah di muka bumi.

Apa Itu Baitullah?

Baitullah secara harfiah berarti “Rumah Allah”. Istilah ini merujuk pada Ka’bah sebagai tempat yang paling sakral dalam Islam. Baitullah digunakan dalam Al-Quran untuk menggambarkan kedudukan Ka’bah sebagai pusat ibadah umat manusia. Umat Islam percaya bahwa Ka’bah pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail, atas perintah Allah.

Dalam konteks ibadah haji dan umroh, Baitullah menjadi tempat yang paling utama untuk dikunjungi dan dijadikan pusat kegiatan ibadah. Setiap Muslim yang melakukan ibadah haji atau umroh wajib melakukan thawaf, yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Ibadah ini melambangkan kepatuhan dan penghormatan kepada Allah.

Bentuk dan Letak Ka’bah

Ka’bah memiliki bentuk dasar kubus dengan sudut-sudut yang mengarah ke empat penjuru mata angin. Dinding Ka’bah terbuat dari batu granit yang diambil dari bukit-bukit di sekitar Mekkah. Setiap tahun, dinding Ka’bah ditutupi oleh kain hitam yang disebut Kiswah, yang diganti setiap tahun pada hari Arafah, menjelang pelaksanaan ibadah haji.

Letak Ka’bah berada di tengah-tengah Masjidil Haram, yang merupakan masjid terbesar di dunia dan menjadi pusat dari ibadah haji dan umroh. Ka’bah berada di bawah langit terbuka, dikelilingi oleh jutaan umat Islam setiap tahunnya yang datang untuk melaksanakan thawaf dan ibadah lainnya. Di salah satu sudut Ka’bah, terdapat Hajar Aswad, sebuah batu hitam yang diyakini berasal dari surga dan digunakan sebagai penanda dimulainya thawaf.

Isi Ka’bah

Banyak orang bertanya-tanya, apa isi Ka’bah? Sebagai tempat yang sangat dihormati, Ka’bah sebenarnya kosong di bagian dalamnya. Bangunan ini tidak digunakan untuk kegiatan ibadah di dalamnya, melainkan sebagai simbol kesatuan dan arah kiblat umat Islam.

Di dalam Ka’bah, terdapat tiga tiang penyangga yang menopang atapnya. Selain itu, terdapat tangga menuju bagian atap dan beberapa lampu gantung yang menghiasi bagian dalam. Ka’bah juga memiliki lantai yang dilapisi marmer. Bagian dalam Ka’bah bukanlah tempat umum yang dapat dikunjungi oleh jemaah, hanya orang-orang tertentu yang diizinkan untuk memasukinya pada waktu-waktu tertentu.

Sejarah Ka’bah

Sejarah Ka’bah dimulai sejak zaman Nabi Ibrahim. Menurut ajaran Islam, Ka’bah pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail, atas perintah Allah. Pada saat itu, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk meninggalkan istri dan anaknya di sebuah lembah yang tandus, yang kemudian menjadi Mekkah. Setelah beberapa tahun, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail membangun Ka’bah sebagai tempat ibadah kepada Allah.

Selama berabad-abad, Ka’bah mengalami beberapa kali renovasi dan perubahan. Pada masa sebelum Islam, Ka’bah pernah digunakan oleh orang-orang Arab Jahiliyah untuk menyembah berhala. Namun, setelah Nabi Muhammad SAW menaklukkan Mekkah, berhala-berhala yang ada di dalam dan di sekitar Ka’bah dihancurkan, dan Ka’bah dikembalikan sebagai tempat ibadah hanya kepada Allah.

Selama sejarahnya, Ka’bah pernah mengalami beberapa kerusakan akibat bencana alam seperti banjir dan kebakaran. Salah satu renovasi besar terjadi pada masa Khalifah Abdullah bin Zubair, yang membangun ulang Ka’bah setelah rusak parah akibat serangan pasukan Hajjaj bin Yusuf. Renovasi lainnya dilakukan pada masa Kekhalifahan Ottoman dan hingga saat ini Ka’bah terus dirawat dan dijaga dengan baik oleh pemerintah Arab Saudi.

Keutamaan Ka’bah

Ka’bah memiliki keutamaan yang luar biasa bagi umat Islam. Berikut beberapa keutamaan Ka’bah yang perlu diketahui:

Kiblat bagi Umat Islam: Ka’bah adalah arah yang dihadapi oleh umat Islam saat melaksanakan salat. Ini menjadikan Ka’bah sebagai pusat spiritual yang menyatukan umat Islam di seluruh dunia dalam satu arah yang sama.

Pusat Ibadah Haji dan Umroh: Setiap tahun, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia datang ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji dan umroh. Ka’bah menjadi pusat dari seluruh rangkaian ibadah ini, termasuk thawaf, yang merupakan ibadah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali.

Dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail: Ka’bah memiliki nilai sejarah yang sangat penting dalam ajaran Islam, karena bangunan ini didirikan oleh dua nabi besar, Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail, atas perintah langsung dari Allah.

Tempat Dikabulkannya Doa: Banyak umat Islam yang meyakini bahwa doa yang dipanjatkan di sekitar Ka’bah memiliki keutamaan khusus dan lebih mudah untuk dikabulkan. Hal ini menjadikan Ka’bah sebagai tempat yang sangat istimewa untuk berdoa dan memohon ampunan kepada Allah.

Simbol Kesatuan Umat Islam: Ka’bah menjadi simbol kesatuan umat Islam dari seluruh dunia. Meskipun berasal dari latar belakang, budaya, dan bahasa yang berbeda, setiap Muslim di seluruh dunia menghadap Ka’bah saat beribadah dan merasa terhubung secara spiritual satu sama lain.

Tempat yang Dijaga dan Dilindungi: Allah SWT dalam Al-Quran berjanji untuk melindungi Ka’bah dari segala bentuk ancaman dan bahaya. Salah satu peristiwa yang menunjukkan hal ini adalah ketika tentara Abrahah dari Yaman berusaha menghancurkan Ka’bah, tetapi gagal setelah Allah mengirimkan burung-burung yang membawa batu untuk menghancurkan mereka.

Kiswah sebagai Simbol Kemuliaan: Kiswah, kain hitam yang menutupi Ka’bah, diganti setiap tahun pada hari Arafah. Kain ini menjadi simbol kemuliaan dan penghormatan terhadap bangunan suci ini. Kiswah dihiasi dengan kaligrafi emas yang menampilkan ayat-ayat Al-Quran, memberikan kesan megah dan sakral pada Ka’bah.

Ka’bah merupakan bangunan suci yang memiliki makna spiritual yang mendalam bagi umat Islam. Sebagai Baitullah, Ka’bah bukan hanya menjadi arah kiblat dalam salat, tetapi juga menjadi pusat dari ibadah haji dan umroh. Keutamaan Ka’bah meliputi sejarah pembangunannya yang melibatkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, serta kedudukannya sebagai tempat dikabulkannya doa dan simbol kesatuan umat Islam.

Bagi setiap Muslim, mengunjungi Ka’bah dan melaksanakan ibadah di sekitarnya merupakan salah satu impian terbesar dalam hidup. Ka’bah tidak hanya menjadi simbol keimanan, tetapi juga tempat yang penuh dengan keberkahan dan kemuliaan.

Ayo rasakan kedamaian dan ketenangan ibadah di Tanah Suci. Umrah dan haji bersama Arrayyan Al Mubarak, perjalanan spiritual yang tak terlupakan.

Apa Itu Tawaf? Mengenal Tata Cara, Jenis, dan Syarat Sahnya

Apa Itu Tawaf? Mengenal Tata Cara, Jenis, dan Syarat Sahnya

Tawaf merupakan salah satu rangkaian ibadah yang dilakukan ketika seseorang menunaikan ibadah haji maupun umroh. Ibadah ini melibatkan berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali, dengan arah berlawanan jarum jam. Meskipun tampak sederhana, Tawaf memiliki makna yang mendalam serta aturan-aturan yang harus diikuti agar sah dan diterima. Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih lanjut mengenai apa itu Tawaf, jenis-jenisnya, tata caranya, dan syarat sah yang harus dipenuhi.

Apa Itu Tawaf?

Tawaf adalah ibadah yang dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran dalam arah berlawanan dengan jarum jam. Dalam bahasa Arab, kata “Tawaf” berasal dari kata “taafa,” yang berarti mengelilingi atau berputar. Tawaf merupakan salah satu rukun dalam ibadah haji dan umroh yang harus dilaksanakan oleh setiap jamaah. Ibadah ini memiliki makna simbolis, yaitu sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan pengakuan terhadap kebesaran-Nya.

Tawaf juga merepresentasikan keharmonisan alam semesta yang berputar, dari planet hingga atom, semuanya beredar dalam orbit yang ditentukan oleh Allah. Saat seseorang melaksanakan Tawaf, mereka diingatkan akan ketergantungan mereka pada Allah dan kehendak-Nya. Dalam pelaksanaannya, Tawaf tidak hanya tentang fisik mengelilingi Ka’bah, tetapi juga melibatkan refleksi spiritual dan doa yang diucapkan selama putaran tersebut.

Macam-Macam / Jenis Tawaf

Tawaf terbagi menjadi beberapa jenis berdasarkan tujuan dan waktu pelaksanaannya. Setiap jenis Tawaf memiliki ketentuan tersendiri dan dilakukan dalam konteks ibadah tertentu. Berikut adalah beberapa jenis Tawaf yang umum dikenal:

Tawaf Ifadah 

Tawaf Ifadah adalah salah satu rukun haji yang wajib dilaksanakan setelah wukuf di Arafah dan melempar jumrah di Mina. Tawaf ini merupakan syarat sah haji, sehingga tidak boleh ditinggalkan. Jika Tawaf Ifadah tidak dilaksanakan, maka ibadah haji seseorang dianggap tidak sah.

Tawaf Qudum 

Tawaf Qudum dilakukan saat jamaah haji atau umroh pertama kali tiba di Masjidil Haram. Tawaf ini bersifat sunnah, namun dianjurkan sebagai bentuk penghormatan atas kedatangan di tanah suci. Biasanya, jamaah melakukan Tawaf Qudum sebelum melaksanakan rangkaian ibadah lainnya.

Tawaf Wada’ 

Tawaf Wada’ adalah Tawaf perpisahan yang dilakukan oleh jamaah haji sebelum meninggalkan Makkah. Tawaf ini wajib dilakukan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Ka’bah sebelum pulang ke tanah air. Tawaf Wada’ menandakan perpisahan dengan tanah suci dan doa agar bisa kembali lagi di masa depan.

Tawaf Sunnah 

Tawaf Sunnah dapat dilakukan kapan saja oleh siapa saja yang berada di Masjidil Haram, bahkan oleh mereka yang tidak sedang melaksanakan haji atau umroh. Tawaf ini dilakukan sebagai bentuk ibadah sunnah yang mendekatkan diri kepada Allah.

Tawaf Umrah 

Tawaf Umrah adalah bagian dari rangkaian ibadah umroh. Setiap jamaah umroh wajib melaksanakan Tawaf ini setelah melakukan ihram dan sebelum melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah. Tanpa melaksanakan Tawaf Umrah, ibadah umroh tidak sah.

Setiap jenis Tawaf memiliki aturan yang berbeda dalam hal waktu pelaksanaannya, namun inti dari setiap Tawaf tetap sama: mengelilingi Ka’bah tujuh kali dengan penuh kesadaran spiritual.

Tata Cara Tawaf

Agar ibadah Tawaf sah dan diterima, ada tata cara yang harus diikuti dengan benar. Berikut ini adalah langkah-langkah pelaksanaan Tawaf:

Niat Tawaf 

Sebelum memulai Tawaf, jamaah harus meniatkan dalam hati untuk melaksanakan ibadah ini semata-mata karena Allah. Niat tidak perlu diucapkan keras-keras, cukup di dalam hati.

Berwudhu 

Sama seperti dalam ibadah shalat, pelaksanaan Tawaf memerlukan keadaan suci dari hadas kecil dan besar. Oleh karena itu, jamaah harus berwudhu terlebih dahulu sebelum memulai Tawaf. Jika wudhu batal di tengah pelaksanaan Tawaf, maka jamaah harus berhenti, berwudhu kembali, dan melanjutkan Tawaf dari putaran yang terakhir.

Memulai dari Hajar Aswad 

Tawaf dimulai dari sudut Ka’bah yang terdapat Hajar Aswad. Jamaah dianjurkan untuk menyentuh atau mencium Hajar Aswad, namun jika tidak memungkinkan karena keramaian, cukup dengan memberi isyarat tangan ke arah Hajar Aswad dan mengucapkan “Bismillah, Allahu Akbar”.

Mengelilingi Ka’bah 

Jamaah harus mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran dalam arah berlawanan jarum jam. Setiap putaran dimulai dan diakhiri di Hajar Aswad. Selama Tawaf, jamaah dianjurkan untuk berdoa dan berzikir, mengingat kebesaran Allah.

Menjaga Posisi Bahu 

Saat melakukan Tawaf, bahu kiri jamaah harus selalu berada di sisi Ka’bah, artinya jamaah harus menghadap ke arah berlawanan jarum jam. Selain itu, jamaah diharuskan menjaga ketertiban, tidak boleh berdesak-desakan, dan harus saling menjaga satu sama lain.

Ramal pada Tiga Putaran Pertama 

Bagi laki-laki, sunnah untuk berlari-lari kecil atau ramal pada tiga putaran pertama. Namun, ini hanya dilakukan jika situasi memungkinkan dan tidak membahayakan jamaah lainnya. Sedangkan pada empat putaran berikutnya, jamaah berjalan dengan tenang.

Selesai di Hajar Aswad 

Tawaf selesai setelah jamaah menyelesaikan tujuh putaran. Setelah itu, jamaah disunnahkan untuk melaksanakan shalat sunnah Tawaf di belakang Maqam Ibrahim, atau jika tidak memungkinkan, di tempat mana saja di Masjidil Haram.

Syarat Sah Tawaf

Tawaf yang dilakukan harus memenuhi beberapa syarat agar sah dan diterima oleh Allah. Berikut ini adalah syarat-syarat sah Tawaf:

Suci dari Hadas 

Jamaah harus dalam keadaan suci, baik dari hadas kecil maupun hadas besar. Wudhu menjadi syarat sah dalam pelaksanaan Tawaf. Jika wudhu batal saat melakukan Tawaf, maka jamaah harus berhenti dan berwudhu kembali sebelum melanjutkan.

Menutupi Aurat 

Jamaah wajib menutupi aurat selama melaksanakan Tawaf, baik laki-laki maupun perempuan. Bagi laki-laki, aurat yang harus ditutupi adalah antara pusar hingga lutut, sementara bagi perempuan seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan.

Mengelilingi Ka’bah 

Tawaf harus dilakukan dengan benar, yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali dalam arah berlawanan dengan jarum jam. Putaran harus dilakukan dengan utuh, dimulai dari Hajar Aswad dan diakhiri di tempat yang sama. Jika salah satu putaran kurang, maka Tawaf dianggap tidak sah.

Ka’bah di Sebelah Kiri 

Selama Tawaf, Ka’bah harus selalu berada di sisi kiri jamaah. Artinya, jamaah harus mengikuti arah berlawanan jarum jam, dan tidak boleh berjalan dengan arah yang berlawanan atau melanggar aturan tersebut.

Dilakukan di Masjidil Haram 

Tawaf hanya sah jika dilakukan di dalam area Masjidil Haram, mengelilingi Ka’bah secara fisik. Tawaf yang dilakukan di tempat lain tidak dianggap sah.

Tujuh Putaran 

Syarat utama Tawaf adalah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Jika putarannya kurang, maka Tawaf dianggap tidak sah. Setiap putaran harus utuh dan dimulai dari titik Hajar Aswad.

Tawaf adalah salah satu ibadah yang memiliki keutamaan dan kedudukan penting dalam pelaksanaan haji dan umroh. Memahami tata cara dan syarat sahnya menjadi kunci agar ibadah ini dapat dilakukan dengan benar dan diterima oleh Allah. Melalui Tawaf, seorang muslim mendekatkan diri kepada Allah, merenungkan kebesaran-Nya, serta memperbaharui komitmen untuk terus hidup dalam ketaatan dan keimanan.

Menunaikan ibadah Umrah dengan Arrayyan Al Mubarak adalah pilihan tepat bagi Anda yang ingin merasakan keutamaan dari setiap rangkaian ibadah, termasuk tawaf.