Niat merupakan fondasi utama dalam setiap amal ibadah seorang muslim. Amal yang tampak besar bisa menjadi tidak bernilai di sisi Allah apabila tidak dilandasi niat yang benar, sementara amalan yang sederhana dapat bernilai agung jika dikerjakan dengan keikhlasan. Oleh karena itu, pembahasan tentang niat memiliki kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menegaskan bahwa diterima atau tidaknya suatu amal sangat bergantung pada niat yang ada di dalam hati pelakunya. Dari sinilah para ulama menjadikan hadits tentang niat sebagai kaidah agung dalam Islam yang mencakup berbagai aspek ibadah dan muamalah.
Hadits tentang Niat
Imam Bukhari rahimahullah meletakkan hadits tentang niat di awal kitab Shahih-nya sebagai mukadimah. Hal ini menunjukkan betapa agung dan mendasarnya pembahasan niat dalam agama. Dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa setiap amal sangat tergantung pada niatnya. Tersirat dari penempatan hadits ini bahwa amalan apa pun yang tidak diniatkan untuk mengharap Wajah Allah Ta’ala, maka ia akan menjadi sia-sia, tidak membuahkan hasil yang berarti baik di dunia maupun di akhirat.
Al-Mundzir meriwayatkan dari Ar-Rabi’ bin Khutsaim, beliau berkata, “Segala sesuatu yang tidak diniatkan untuk mencari keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla, maka akan sia-sia.” Abu Abdillah rahimahullah pun menegaskan, “Tidak ada hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih banyak, kaya, dan dalam faedahnya daripada hadits ini.”
Abdurrahman bin Mahdiy bahkan menyatakan, seandainya ia menyusun sebuah kitab yang terdiri dari banyak bab, tentu hadits Umar bin Al-Khattab tentang niat akan ia letakkan di setiap bab. Mayoritas ulama salaf juga berpendapat bahwa hadits tentang niat ini mencakup sepertiga Islam. Imam Baihaqi menjelaskan, karena seluruh perbuatan seorang hamba bersumber dari tiga hal: hati, lisan, dan anggota badan. Niat yang tempatnya di hati merupakan unsur yang paling utama.
Imam Ahmad rahimahullah menambahkan bahwa ilmu agama berporos pada tiga kaidah besar, yaitu: pertama, hadits “innamal a’malu binniyat” (Sesungguhnya amal itu tergantung niat). Kedua, hadits “Man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amrunaa fahuwa radd” (Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak kami perintahkan, maka amal tersebut tertolak). Ketiga, hadits “Al halaalu bayyin wal haraamu bayyin” (Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas).
Niat menjadi tolok ukur diterima atau tidaknya suatu amalan, serta menentukan banyak atau sedikitnya pahala yang didapatkan. Bahkan, niat dapat mengantarkan seseorang ke derajat shiddiqin atau justru menjatuhkannya ke derajat yang paling rendah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpamaan hijrah: siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya bernilai ibadah dan pahala, namun siapa yang berhijrah karena kepentingan dunia, maka ia hanya memperoleh apa yang diniatkannya.
Secara istilah, niat adalah keinginan dalam hati untuk melakukan suatu perbuatan. Tempat niat adalah di hati, bukan di lisan. Karena itu, melafazkan niat dalam ibadah seperti shalat, wudhu, dan mandi tidak disyariatkan. Para fuqaha menjelaskan bahwa niat memiliki dua makna utama: tamyiiz (pembeda) dan qasd (tujuan).
Fungsi Niat
Niat tidak hanya sekadar syarat sah ibadah, tetapi juga memiliki fungsi penting dalam menentukan jenis amalan dan kualitasnya di sisi Allah.
1. Fungsi Niat untuk Membedakan Suatu Amalan
Niat berfungsi untuk membedakan satu ibadah dengan ibadah lainnya, meskipun bentuk lahiriahnya sama. Contohnya shalat dua rakaat. Shalat qabliyah subuh dan shalat subuh sama-sama dua rakaat, dengan gerakan, rukun, dan bacaan yang hampir serupa. Lalu apa yang membedakan keduanya? Jawabannya adalah niat.
Begitu pula niat membedakan antara ibadah dan kebiasaan. Mandi junub dan mandi biasa secara lahiriah sama-sama mengguyurkan air ke seluruh tubuh. Namun, niatlah yang menjadikan mandi junub bernilai ibadah. Dari sini dapat dipahami bahwa amalan yang asalnya hanya rutinitas duniawi dapat berubah menjadi ibadah yang bernilai pahala jika disertai niat yang benar.
2. Fungsi Niat untuk Membedakan Tujuan Seseorang dalam Beribadah
Fungsi niat yang kedua adalah membedakan tujuan seseorang dalam menjalankan ibadah. Inilah yang dikenal dengan istilah ikhlas. Apakah ibadah tersebut dilakukan semata-mata karena Allah Ta’ala, atau karena ingin mendapatkan pujian dan perhatian manusia?
Allah Ta’ala tidak akan menerima amalan yang tidak ikhlas. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman:
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Aku sangat tidak butuh sekutu. Barang siapa beramal dengan menyekutukan selain-Ku dalam amal tersebut, maka Aku tinggalkan dia dan syiriknya.” (HR. Muslim)
Para ulama salaf sering menekankan pentingnya keikhlasan ini. Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata:
رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية
“Bisa jadi amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan bisa jadi amalan yang besar menjadi kecil karena niat.”
Yahya bin Abi Katsir rahimahullah juga berkata:
تَعَلَّمُوا النِّيَّةَ فَإِنَّهَا أَبلَغُ مِنَ العَمَل
“Pelajarilah niat, karena niat lebih dahulu sampai kepada Allah daripada amalan.”
Mutharrif bin Abdullah rahimahullah berkata:
صَلاَحُ القَلبِ بِصَلاَحِ العَمَلِ، وَ صَلاَحُ العَمَلِ بِصَلاَحِ النِّيَّة
“Baiknya hati tergantung pada baiknya amalan, dan baiknya amalan tergantung pada baiknya niat.”
Bahkan Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah mengakui beratnya menjaga niat:
مَا عَالَجتُ شَيئًا أَشَدُّ عَليَّ مِن نِيَّتِي لأَنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَليّ
“Tidak ada yang lebih berat aku perbaiki selain niatku, karena ia selalu berubah-ubah.”
Semua ini menunjukkan bahwa niat bukan perkara sepele, tetapi urusan hati yang harus terus dijaga dan diluruskan.
Memahami dan meluruskan niat adalah kunci agar setiap ibadah bernilai di sisi Allah, termasuk ibadah besar seperti umroh. Ketika niat umroh dilandasi keikhlasan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, insyaAllah perjalanan tersebut menjadi sarana penghapus dosa dan peningkat derajat. Arrayyan Travel menghadirkan paket umroh yang amanah dan sesuai tuntunan sunnah, agar setiap langkah ibadah Anda lebih tenang dan penuh makna. Luruskan niat, siapkan hati, dan wujudkan umroh impian Anda bersama Arrayyan, karena perjalanan menuju Baitullah adalah perjalanan hati menuju ridha-Nya.