Menunaikan ibadah haji adalah dambaan setiap muslim. Di dalamnya terdapat banyak rangkaian ibadah yang wajib dilaksanakan sesuai syariat, salah satunya adalah tahallul awal. Banyak jamaah yang masih bingung mengenai tahallul awal: kapan waktunya, apa saja syaratnya, serta hal-hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan setelahnya. Mari kita bahas lebih dalam agar semakin jelas.
Apa Itu Tahallul Awal?
Secara sederhana, tahallul awal adalah kondisi di mana jamaah haji keluar sebagian dari larangan ihram setelah melakukan amalan tertentu. Proses ini dilakukan pada tanggal 10 Zulhijah, tepat setelah jamaah melaksanakan lempar jumrah aqabah di Mina, lalu diikuti dengan mencukur atau memotong sebagian rambut.
Dengan melakukan tahallul awal, jamaah haji diperbolehkan kembali melakukan beberapa hal yang sebelumnya diharamkan saat ihram, seperti memakai pakaian biasa, menggunakan minyak wangi, hingga memotong kuku. Namun, masih ada satu larangan besar yang belum boleh dilakukan, yaitu berhubungan suami istri.
Kapan Bisa Tahallul Awal?
Waktu pelaksanaan tahallul awal cukup jelas, yaitu setelah jamaah menyelesaikan dua dari tiga amalan berikut:
Melempar jumrah aqabah di Mina pada tanggal 10 Zulhijah.
Mencukur atau memotong rambut sebagai tanda kerendahan hati di hadapan Allah.
Tawaf ifadah di Masjidil Haram.
Jamaah yang sudah melaksanakan dua dari tiga amalan di atas sudah dianggap sah melakukan tahallul awal. Artinya, ia diperbolehkan keluar sebagian dari larangan ihram, meski larangan berhubungan suami istri tetap berlaku hingga tahallul akhir.
Apa yang Dilakukan Setelah Tahallul Awal?
Setelah sah melaksanakan tahallul awal, jamaah haji tidak lagi terikat penuh dengan larangan ihram. Berikut beberapa hal yang sudah boleh dilakukan:
Memakai pakaian biasa: Jamaah sudah boleh melepas pakaian ihram dan mengenakan pakaian berjahit atau pakaian sehari-hari.
Menggunakan wewangian: Parfum, sabun wangi, atau minyak rambut sudah boleh digunakan setelah tahallul awal.
Memotong kuku: Larangan memotong kuku selama ihram tidak berlaku lagi setelah tahallul awal.
Mencukur rambut: Meski mencukur sebagian rambut sudah dilakukan sebagai syarat tahallul awal, jamaah tetap boleh melanjutkan dengan mencukur habis rambutnya (bagi laki-laki) atau memotong sebagian rambut (bagi perempuan).
Namun, ada satu hal yang tetap tidak boleh dilakukan, yaitu melakukan hubungan suami istri. Larangan ini hanya dicabut setelah jamaah melaksanakan tahallul akhir.
Keterkaitan dengan Tahallul Akhir
Perlu dipahami bahwa tahallul awal hanya menghapus sebagian larangan ihram. Tahap berikutnya adalah tahallul akhir atau disebut juga tahallul tsani.
Tahallul akhir terjadi setelah jamaah menuntaskan tawaf ifadah dan sa’i. Pada tahap ini, seluruh larangan ihram benar-benar berakhir, termasuk larangan melakukan hubungan intim. Dengan demikian, jamaah haji sudah sepenuhnya keluar dari kondisi ihram.
Bolehkah Potong Kuku Setelah Tahallul Awal?
Pertanyaan ini sering muncul di kalangan jamaah haji. Jawabannya adalah: boleh.
Setelah tahallul awal, jamaah diperbolehkan memotong kuku karena larangan ihram yang berkaitan dengan tubuh sudah dicabut. Begitu pula dengan kebolehan memakai parfum dan pakaian berjahit.
Satu-satunya larangan yang masih berlaku adalah jima’ atau hubungan suami istri. Larangan ini baru berakhir setelah jamaah menyelesaikan seluruh rukun haji hingga tahallul akhir.
Tahallul awal adalah salah satu tahapan penting dalam ibadah haji. Dengan melakukannya, jamaah keluar sebagian dari larangan ihram, sehingga bisa kembali hidup lebih nyaman, meski masih ada satu larangan yang tersisa hingga tahallul akhir.
Bagi Anda yang berencana menunaikan ibadah haji, penting memahami setiap tahapannya agar tidak keliru dalam pelaksanaan. Ingin berangkat haji dengan bimbingan terpercaya dan pembimbing yang berpengalaman? Pilihlah Arrayyan, travel haji terbaik yang siap mendampingi perjalanan suci Anda dengan aman, nyaman, dan sesuai syariat.
Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW adalah salah satu tradisi keagamaan yang penuh makna dalam kehidupan umat Islam. Maulid, yang berarti kelahiran, merujuk pada hari lahir Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijriyah. Di tahun 2025, perayaan ini diperkirakan berlangsung pada Kamis, 4 September hingga Jumat, 5 September 2025.
Momentum ini menjadi saat istimewa bagi umat Islam untuk mengenang dan meneladani sosok Nabi Muhammad SAW—seorang pemimpin, teladan akhlak, dan pembawa risalah Islam yang mulia. Perayaan ini dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan keagamaan, mulai dari pembacaan salawat, pengajian, ceramah, sedekah, hingga tradisi-tradisi budaya yang telah mengakar di berbagai daerah.
Sejarah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW
Awal mula peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dapat ditelusuri ke masa Dinasti Fatimiyah di Mesir pada abad ke-11 M. Dinasti ini mengadakan perayaan kelahiran Nabi sebagai bagian dari kegiatan keagamaan dan budaya yang bertujuan memperkuat rasa cinta umat terhadap Rasulullah serta mempererat solidaritas umat Islam.
Seiring waktu, perayaan ini menyebar ke berbagai wilayah dunia Islam, di antaranya Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika Utara, bahkan Eropa. Meskipun bentuk perayaannya berbeda-beda, intinya tetap sama, yaitu memperingati kelahiran Rasulullah dengan rasa syukur dan cinta.
Ulama besar seperti Imam Jalaluddin al-Suyuti menyebut bahwa memperingati Maulid Nabi termasuk perbuatan baik selama dilakukan dalam batas syariat Islam. Dalam kitab Husnul Maqsid fi Amalil Maulid, beliau menjelaskan bahwa kegiatan seperti pembacaan Al-Qur’an, salawat, pengajian, serta kegiatan positif lainnya dapat menjadi bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.
Sementara itu, Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam karyanya Fath al-Bari menyatakan bahwa memperingati Maulid adalah salah satu cara mengungkapkan rasa cinta dan penghormatan terhadap sosok yang paling dicintai Allah, yaitu Rasulullah SAW. Kendati tidak secara langsung diperintahkan dalam Al-Qur’an atau hadis, perayaan ini dinilai sebagai bid’ah hasanah, atau inovasi yang baik, selama isinya bersifat positif dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Amalan yang Dianjurkan dalam Peringatan Maulid Nabi
Peringatan Maulid Nabi bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan menjadi momentum spiritual yang diisi dengan berbagai amalan kebaikan. Berikut beberapa amalan yang umum dan dianjurkan dilakukan saat Maulid:
1. Pembacaan Sholawat
Sholawat adalah bentuk pujian dan doa untuk Nabi Muhammad SAW. Rasulullah sendiri bersabda, “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan memberikan rahmat kepadanya sepuluh kali” (HR. Muslim). Di hari Maulid, umat Islam dianjurkan memperbanyak sholawat sebagai tanda cinta dan penghormatan kepada beliau.
2. Mendengarkan Kisah Kehidupan Nabi
Majelis-majelis Maulid biasanya diisi dengan pembacaan kisah perjalanan hidup Rasulullah SAW, mulai dari kelahiran, masa kecil, kenabian, hingga wafatnya. Dengan mengenal lebih dalam perjalanan hidup beliau, umat dapat mengambil pelajaran dan menjadikannya teladan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Bersedekah dan Berbagi
Sedekah merupakan amalan yang sangat dianjurkan di setiap waktu, apalagi dalam momen istimewa seperti Maulid Nabi. Rasulullah dikenal sebagai pribadi yang sangat dermawan. Oleh karena itu, memperingati Maulid dengan berbagi kepada sesama, khususnya kepada yang membutuhkan, adalah bentuk meneladani sifat beliau.
4. Meningkatkan Ibadah dan Ketakwaan
Momentum Maulid juga dimanfaatkan untuk memperdalam ibadah, seperti memperbanyak membaca Al-Qur’an, melakukan dzikir, shalat sunnah, hingga memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Ini merupakan wujud syukur atas kelahiran Nabi yang membawa cahaya Islam.
Pandangan Ulama tentang Peringatan Maulid
Perayaan Maulid memang tidak luput dari perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama dari kalangan salafi menyebut bahwa peringatan ini tidak dilakukan oleh Rasulullah maupun para sahabat, sehingga dianggap tidak memiliki dasar yang kuat dalam syariat.
Namun, ulama dari kalangan Asy’ariyah dan Maturidiyah justru menganggap perayaan ini sebagai sarana untuk mengingat Rasulullah dan menyebarkan ajaran Islam secara damai. Menurut mereka, selama perayaan tersebut diisi dengan hal-hal yang bermanfaat dan tidak menyimpang dari syariat, maka hal itu diperbolehkan bahkan sangat dianjurkan.
Tujuan dan Makna Peringatan Maulid Nabi
Peringatan Maulid memiliki berbagai makna dan tujuan penting dalam kehidupan umat Islam. Berikut beberapa di antaranya:
Mengenang Kelahiran Rasulullah
Peringatan ini merupakan bentuk rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, sosok yang membawa risalah kebenaran dan menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta.
Meneladani Akhlak Rasulullah
Rasulullah adalah suri teladan dalam seluruh aspek kehidupan. Melalui peringatan Maulid, umat diingatkan kembali untuk menjadikan akhlak Nabi sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak.
Mempererat Ukhuwah Islamiyah
Acara Maulid sering kali diadakan secara berjamaah, baik di masjid, majelis taklim, maupun di komunitas Muslim. Ini menjadi ajang silaturahmi dan memperkuat solidaritas sesama umat Islam.
Memperkuat Iman dan Takwa
Momen ini menjadi saat yang tepat untuk refleksi diri dan memperkuat kembali komitmen dalam menjalankan perintah agama, menjauhi larangan-Nya, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Mempelajari Sejarah dan Ajaran Islam
Melalui kajian, ceramah, dan pembacaan sirah Nabi, umat Islam bisa memperdalam pemahaman terhadap sejarah perjuangan Rasulullah dan inti ajaran Islam yang penuh kasih sayang dan rahmat.
Tradisi Peringatan Maulid di Indonesia
Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki beragam tradisi unik dalam memperingati Maulid Nabi, di antaranya:
Grebeg Maulud – Solo, Jawa Tengah
Kirab gunungan berisi makanan dan hasil bumi yang melambangkan rasa syukur dan berbagi.
Endog-endogan – Banyuwangi, Jawa Timur
Tradisi menghias telur dan menyusunnya dalam bentuk tumpeng sebagai simbol keberkahan dan kehidupan.
Weh-wehan – Kendal, Jawa Tengah
Masyarakat saling berbagi makanan kepada tetangga dan sanak saudara.
Ampyang Maulid – Kudus, Jawa Tengah
Perayaan dengan pembagian makanan khas dan parade budaya Islami.
Walima – Gorontalo
Acara pembacaan doa bersama dan ceramah agama sebagai bentuk penghormatan terhadap Rasulullah SAW.
Berbagai tradisi ini memperkaya khasanah budaya Islam di Nusantara tanpa menghilangkan esensi utamanya, yaitu meneladani Rasulullah dan mempererat ukhuwah Islamiyah.
Maulid Nabi Memperingati Apa?
Secara esensial, Maulid Nabi memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah yang membawa rahmat bagi semesta alam. Ini adalah bentuk cinta, penghormatan, dan rasa syukur umat Islam atas diutusnya seorang nabi terakhir yang menjadi teladan sepanjang zaman. Umat Islam merayakannya dengan harapan dapat menumbuhkan kembali semangat untuk meneladani akhlak dan perjuangan Rasulullah dalam menyebarkan Islam secara damai.
Ingin lebih dekat dengan jejak langkah Rasulullah? Wujudkan impian spiritual Anda dengan mengikuti Umroh Maulid bersama Arrayyan, travel umroh terpercaya yang telah berpengalaman memberangkatkan jamaah ke Tanah Suci. Nikmati layanan terbaik, bimbingan ibadah yang sesuai sunnah, dan kesempatan berziarah ke tempat-tempat bersejarah yang penuh makna. Kunjungi arrayyan.travel dan daftar sekarang paket umroh untuk keberangkatan spesial Maulid Nabi!
Shalat Jumat adalah ibadah mingguan yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Rasulullah SAW sangat menekankan pelaksanaannya sebagai pengganti shalat Dzuhur di hari Jumat. Selain bernilai ibadah, shalat Jumat juga menjadi momen berkumpulnya umat Muslim untuk mendengarkan khutbah yang berisi nasihat dan pengingat akan ajaran agama. Namun, tidak semua orang diwajibkan mengerjakannya, dan pelaksanaannya pun memiliki syarat-syarat tertentu agar sah di mata syariat. Artikel ini membahas secara lengkap syarat wajib dan syarat sah shalat Jumat berdasarkan riwayat Rasulullah SAW.
Syarat Wajib Shalat Jumat
Syarat wajib adalah ketentuan yang membuat seseorang terkena kewajiban melaksanakan shalat Jumat. Jika salah satu syarat ini tidak terpenuhi, maka ia tidak diwajibkan mengerjakannya.
1. Muslim
Shalat Jumat hanya diwajibkan bagi orang yang beragama Islam. Non-Muslim tidak dikenai kewajiban ini karena shalat adalah bentuk ibadah khusus umat Islam yang memerlukan keimanan dan penerimaan terhadap ajaran Rasulullah SAW.
2. Laki-laki
Kewajiban shalat Jumat hanya berlaku untuk laki-laki. Wanita tidak diwajibkan, namun tetap diperbolehkan untuk mengikutinya jika mau. Hal ini sesuai dengan riwayat hadis bahwa Rasulullah SAW tidak mewajibkan wanita menghadiri shalat Jumat, melainkan memberi mereka keringanan.
3. Baligh
Anak-anak yang belum baligh tidak diwajibkan melaksanakan shalat Jumat. Namun, orang tua dianjurkan untuk membiasakan anak laki-lakinya menghadiri shalat Jumat sebagai latihan dan pendidikan sejak dini.
4. Bermukim atau Al-Iqamah bi Mishr
Orang yang sedang menetap di suatu wilayah berkewajiban melaksanakan shalat Jumat. Musafir atau orang yang sedang bepergian jauh dibebaskan dari kewajiban ini. Rasulullah SAW dan para sahabat ketika dalam perjalanan mengganti shalat Jumat dengan shalat Zuhur biasa.
5. Merdeka
Pada zaman Rasulullah SAW, budak tidak diwajibkan shalat Jumat karena keterbatasan kebebasan mereka untuk meninggalkan pekerjaan atau majikan. Namun, ada beberapa rincian:
1. Izin dari Tuan
Budak yang mendapatkan izin dari majikannya untuk menghadiri shalat Jumat boleh melaksanakannya, meskipun tetap tidak diwajibkan.
2. Budak Mukatab
Budak yang sedang dalam perjanjian pembebasan (mukatab) memiliki status khusus. Jika ia sudah memiliki kebebasan untuk mengatur waktunya, maka ia lebih dekat pada kewajiban menghadiri shalat Jumat.
6. Sehat Jasmani
Orang yang sakit berat atau memiliki kondisi fisik yang membuatnya sulit menghadiri shalat Jumat dibebaskan dari kewajiban ini. Rasulullah SAW memberikan keringanan kepada orang sakit untuk melaksanakan shalat di rumah.
7. Berakal
Orang yang kehilangan akal, seperti penderita gangguan jiwa berat, tidak dikenai kewajiban shalat Jumat karena syarat taklif (beban hukum) tidak berlaku bagi mereka.
Syarat Sah Shalat Jumat
Selain syarat wajib, pelaksanaan shalat Jumat juga harus memenuhi syarat sah. Jika syarat sah ini tidak terpenuhi, maka shalat Jumat tidak dianggap sah dan wajib diganti dengan shalat Zuhur.
1. Dilakukan di Waktu Zuhur
Shalat Jumat hanya sah jika dilakukan di waktu Zuhur, yaitu setelah matahari tergelincir hingga menjelang waktu Ashar. Jika dilaksanakan sebelum atau setelah waktu ini, maka tidak sah.
2. Dilaksanakan di Area Pemukiman
Shalat Jumat harus dilakukan di daerah yang terdapat pemukiman penduduk tetap. Hal ini mengikuti praktik Rasulullah SAW yang selalu melaksanakannya di Madinah, pusat pemukiman kaum Muslimin pada masanya.
3. Rakaat Pertama Harus Berjemaah
Minimal pada rakaat pertama, shalat Jumat harus dilaksanakan secara berjemaah. Jika makmum datang terlambat dan tidak sempat berjemaah di rakaat pertama, ia wajib mengganti dengan shalat Zuhur.
4. Dilakukan Satu Kali
Dalam satu wilayah pemukiman, shalat Jumat sebaiknya dilakukan sekali saja, kecuali ada kebutuhan yang mendesak seperti keterbatasan tempat atau kondisi darurat.
5. Didahului 2 Khutbah
Salah satu pembeda utama antara shalat Jumat dan shalat Zuhur adalah khutbah. Dua khutbah sebelum shalat Jumat merupakan rukun yang harus ada. Khutbah ini berisi pujian kepada Allah, shalawat kepada Rasulullah, nasihat, dan doa untuk kaum Muslimin.
6. Jemaah Memenuhi Syarat Wajib
Jemaah yang mengikuti shalat Jumat harus memenuhi syarat wajib yang telah dijelaskan sebelumnya. Kehadiran orang yang tidak memenuhi syarat wajib tidak dapat menggantikan kehadiran orang yang wajib.
Apakah Shalat Jumat Harus 40 Orang?
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang jumlah minimal jemaah shalat Jumat. Perbedaan ini bersumber dari metode memahami hadis dan praktik para sahabat.
1. Mazhab Hanafi
Mazhab Hanafi berpendapat bahwa shalat Jumat sah meskipun jumlah jemaahnya sedikit, asalkan ada imam dan minimal tiga makmum laki-laki yang memenuhi syarat wajib. Pendapat ini berdasarkan pemahaman bahwa tidak ada dalil pasti yang mewajibkan jumlah tertentu.
2. Mazhab Maliki
Mazhab Maliki menetapkan jumlah minimal 12 orang laki-laki yang memenuhi syarat wajib, di luar imam. Mereka berdalil dengan riwayat bahwa Rasulullah SAW melaksanakan shalat Jumat pertama kali di Madinah bersama jumlah tersebut.
Shalat Jumat bukan hanya kewajiban mingguan, tetapi juga momentum persatuan umat. Dengan memahami syarat wajib dan sahnya, umat Muslim dapat menjaga kemurnian ibadah ini sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Perbedaan pendapat ulama tentang jumlah jemaah hendaknya disikapi dengan bijak, selama pelaksanaannya tetap berpegang pada prinsip-prinsip syariat.
Segera tunaikan panggilan Allah dengan mempersiapkan diri melaksanakan ibadah sesuai sunnah Rasulullah SAW, termasuk menjaga kewajiban shalat Jumat. Jadikan momen ibadah ini sebagai bekal ruhani sebelum berangkat menuju Tanah Suci. Bersama Arrayyan Al Mubarak, agen travel umroh terpercaya, Anda akan mendapatkan pelayanan terbaik, pembimbing ibadah berpengalaman, serta fasilitas nyaman yang memudahkan perjalanan suci Anda. Mari wujudkan impian ke Baitullah dengan paket umroh unggulan kami, insya Allah aman, nyaman, dan penuh keberkahan. Hubungi kami sekarang untuk informasi dan pendaftaran!
Shalat Jumat merupakan ibadah mingguan yang sangat istimewa bagi umat Islam. Setiap pekan, umat Muslim laki-laki berkumpul di masjid untuk melaksanakan shalat Jumat yang didahului dengan khutbah sebagai sarana menyampaikan nasihat agama, mengingatkan akan kewajiban sebagai hamba Allah, serta mempersatukan umat dalam kebaikan. Rasulullah SAW sangat menekankan pelaksanaan shalat Jumat sesuai tata cara yang benar, baik dari sisi khutbah maupun pelaksanaan shalatnya.
Namun, masih banyak umat yang belum sepenuhnya memahami rukun khutbah dan rukun shalat Jumat. Padahal, pemahaman yang benar sangat penting agar ibadah ini sah dan diterima oleh Allah SWT. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam rukun khutbah Jumat dan rukun shalat Jumat sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
Khutbah Jumat
Khutbah Jumat merupakan salah satu syarat sah shalat Jumat. Tanpa khutbah yang sah, shalat Jumat tidak sah hukumnya dan harus diganti dengan shalat Zuhur. Khutbah Jumat terdiri dari dua bagian yang dipisahkan dengan duduk sebentar oleh khatib. Setiap bagian khutbah memiliki rukun tertentu yang wajib dipenuhi agar khutbah dianggap sah menurut syariat.
Khutbah ini bukan sekadar formalitas sebelum shalat, tetapi memiliki fungsi strategis sebagai sarana pendidikan umat. Rasulullah SAW memanfaatkannya untuk memberikan pengajaran, memperingatkan dari kemaksiatan, serta memotivasi umat untuk berbuat kebaikan. Berikut adalah rukun khutbah Jumat yang wajib ada.
1. Memuji kepada Allah di kedua khutbah
Memuji Allah SWT merupakan pembuka yang wajib ada pada kedua khutbah. Lafaz pujian ini dapat berupa “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin” atau kalimat lain yang senada. Hikmahnya adalah untuk mengingatkan jamaah agar senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan.
2. Membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad
Shalawat kepada Rasulullah SAW juga menjadi rukun khutbah. Shalawat minimal dibaca dengan lafaz “Allahumma shalli ‘ala Muhammad” atau bentuk lain yang maknanya sama. Pembacaan shalawat ini merupakan bentuk penghormatan kepada Rasulullah SAW yang telah menyampaikan risalah Islam.
3. Berwasiat dengan Ketakwaan
Khatib wajib menyampaikan pesan atau nasihat kepada jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Wasiat ini bisa berbentuk ajakan untuk menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Hal ini mengingatkan jamaah bahwa tujuan utama hidup adalah meraih ridha Allah melalui ketakwaan.
4. Membaca Ayat Suci Al-Qur’an
Dalam salah satu bagian khutbah, khatib wajib membaca ayat Al-Qur’an. Ayat yang dibaca sebaiknya relevan dengan tema khutbah yang disampaikan. Hal ini menegaskan bahwa isi khutbah berlandaskan wahyu Allah SWT, bukan sekadar pendapat pribadi.
5. Berdoa untuk Kaum Mukmin
Pada khutbah kedua, khatib wajib menyertakan doa untuk kaum Muslimin. Doa ini biasanya memohon kebaikan, ampunan, dan keselamatan bagi seluruh umat Islam, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
Shalat Jumat
Shalat Jumat adalah ibadah yang menggantikan shalat Zuhur pada hari Jumat bagi laki-laki Muslim yang memenuhi syarat wajib. Keutamaan shalat Jumat sangat besar, di antaranya menghapus dosa-dosa kecil antara dua Jumat dan menjadi momen silaturahmi umat. Namun, untuk mendapatkan pahala tersebut, shalat Jumat harus dilaksanakan sesuai rukun yang telah ditentukan.
Rukun shalat Jumat tidak berbeda jauh dengan rukun shalat fardhu lainnya, hanya saja ia memiliki kekhususan berupa dua khutbah yang mengawalinya.
Didahului oleh dua khutbah Jumat dengan khatib dalam kondisi berdiri dan duduk di antara dua khutbah
Rukun pertama yang membedakan shalat Jumat dengan shalat lainnya adalah khutbah yang terdiri dari dua bagian. Khatib menyampaikan khutbah dengan berdiri jika mampu, kemudian duduk sebentar di antara dua khutbah sebagai jeda. Hal ini mengikuti praktik Rasulullah SAW.
Dilakukan sebanyak dua rakaat secara berjemaah
Berbeda dengan shalat Zuhur yang empat rakaat, shalat Jumat hanya dilakukan dua rakaat. Kedua rakaat ini wajib dilakukan secara berjemaah minimal bersama imam dan jamaah yang memenuhi syarat sah.
Membaca niat
Sebelum memulai shalat, jamaah wajib meniatkan dalam hati bahwa ia akan melaksanakan shalat Jumat. Niat cukup dilakukan di dalam hati, namun sebagian ulama menganjurkan untuk melafazkannya.
Takbiratul ihram
Takbiratul ihram adalah ucapan “Allahu Akbar” sambil mengangkat tangan yang menjadi tanda masuknya seseorang ke dalam shalat. Ini adalah rukun sah shalat yang tidak boleh ditinggalkan.
Berdiri jika mampu
Shalat Jumat dilakukan sambil berdiri bagi yang mampu. Jika seseorang sakit atau tidak mampu berdiri, ia diperbolehkan duduk, namun jika mampu berdiri maka wajib melakukannya.
Membaca Al-Fatihah di setiap rakaat
Al-Fatihah merupakan rukun yang wajib dibaca pada setiap rakaat shalat, baik oleh imam maupun makmum. Makmum dianjurkan untuk membacanya ketika imam sedang diam sejenak setelah membaca ayat atau surah.
Rukuk
Rukuk dilakukan setelah membaca surah atau ayat Al-Qur’an. Posisi punggung rata dan kepala sejajar dengan punggung. Dalam rukuk, bacaan yang dianjurkan adalah “Subhana rabbiyal ‘azhim”.
Iktidal
Iktidal adalah bangkit dari rukuk hingga berdiri tegak. Bacaan yang dianjurkan adalah “Sami’allahu liman hamidah” diikuti “Rabbana lakal hamd”.
Sujud
Sujud dilakukan dengan meletakkan dahi, hidung, kedua telapak tangan, lutut, dan ujung jari kaki di lantai. Bacaan sujud yang dianjurkan adalah “Subhana rabbiyal a’la”.
Duduk di antara dua sujud
Setelah sujud pertama, jamaah duduk di antara dua sujud sambil membaca doa seperti “Rabbighfir li warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa’afini wa’fu anni”.
Duduk tasyahud akhir dan membaca doanya
Pada rakaat kedua, setelah sujud kedua, jamaah duduk tasyahud akhir dan membaca doa tasyahud lengkap hingga shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
Membaca salam
Membaca salam ke kanan dan kiri menjadi penutup shalat. Ucapan yang digunakan adalah “Assalamu’alaikum warahmatullah” sebagai tanda berakhirnya ibadah.
Melaksanakan shalat Jumat sesuai rukun dan syariat adalah bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Khutbah Jumat yang sah dan pelaksanaan shalat yang benar akan menjaga kemurnian ibadah serta menjadikan Jumat sebagai hari penuh keberkahan.
Bagi Anda yang ingin memperdalam pengalaman ibadah dan meraih keberkahan lebih luas, jadikanlah panggilan Allah menuju Baitullah sebagai tujuan berikutnya. Bersama Arrayyan Al Mubarak, agen travel umroh terpercaya, Anda akan mendapatkan bimbingan ibadah yang sesuai sunnah, fasilitas perjalanan yang nyaman, serta pendampingan penuh dari tim profesional. Wujudkan impian suci Anda untuk beribadah di Tanah Haram, mengunjungi Ka’bah, dan menapaktilasi jejak Rasulullah SAW. Hubungi kami sekarang untuk mendapatkan informasi paket umroh terbaik dan mulailah perjalanan spiritual yang akan mengubah hidup Anda.
Shalat merupakan tiang agama dalam Islam. Ibadah ini tidak hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai bentuk kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT. Dalam pelaksanaannya, shalat memiliki syarat dan rukun yang harus dipenuhi agar sah dan diterima oleh Allah. Salah satu aspek terpenting dalam shalat adalah rukun shalat. Artikel ini akan membahas secara rinci 13 rukun shalat fardhu berdasarkan ajaran Rasulullah SAW, sesuai dengan sumber-sumber terpercaya dari kitab fiqih serta hadits sahih.
Pengertian Rukun Shalat
Secara bahasa, rukun berarti sesuatu yang menjadi pilar atau pokok dari suatu perkara. Dalam konteks ibadah, rukun berarti bagian yang harus ada dan tidak boleh ditinggalkan. Jika salah satu rukun tidak dilakukan, maka ibadah tersebut tidak sah, meskipun dilakukan secara sengaja atau tidak sengaja.
Dalam shalat, rukun memiliki kedudukan yang sangat penting. Tidak seperti sunnah shalat yang bisa diganti dengan sujud sahwi ketika lupa, meninggalkan rukun shalat membuat shalat itu batal dan wajib diulang dari rukun yang ditinggalkan. Hal ini didasarkan pada berbagai hadits Rasulullah SAW yang memberikan tuntunan tata cara shalat yang benar.
13 Rukun Shalat Sesuai Syariat Islam
Berikut ini adalah 13 rukun shalat yang harus dipenuhi dalam setiap shalat fardhu, berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW dan penjelasan para ulama fiqih dari mazhab yang diakui:
1. Niat
Niat merupakan rukun pertama dalam shalat. Letaknya di dalam hati, dan tidak harus diucapkan secara lisan. Niat adalah kesadaran dalam hati bahwa seseorang akan melaksanakan ibadah tertentu karena Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tanpa niat yang benar, shalat tidak sah. Oleh karena itu, sangat penting untuk meluruskan niat hanya karena Allah SWT.
2. Takbiratul Ihram
Takbiratul Ihram adalah mengucapkan “Allahu Akbar” di awal shalat sambil mengangkat kedua tangan. Takbir ini adalah tanda masuknya seseorang dalam keadaan shalat, yang mengharamkan aktivitas duniawi lainnya hingga shalat selesai.
Takbir ini harus diucapkan dengan lisan dan tidak cukup hanya dalam hati. Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila engkau berdiri untuk shalat, bertakbirlah…” (HR. Bukhari)
3. Berdiri Bagi yang Mampu
Shalat wajib harus dilakukan dalam keadaan berdiri, jika seseorang memiliki kemampuan fisik. Bagi yang sakit atau tidak mampu berdiri, maka diperbolehkan duduk atau bahkan berbaring.
Allah SWT berfirman:
“Dan berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 238)
4. Membaca Surat Al-Fatihah
Membaca surat Al-Fatihah di setiap rakaat adalah rukun yang tidak bisa digantikan. Ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW:
“Tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca Al-Fatihah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baik imam maupun makmum harus membacanya, kecuali makmum dalam shalat jahr (dikeraskan bacaannya) di mana ia hanya cukup mendengarkan imam.
5. Rukuk
Rukuk adalah membungkukkan badan hingga tangan menyentuh lutut, disertai dengan bacaan tasbih: “Subhaana rabbiyal ‘azhiim”. Rukuk merupakan bentuk ketundukan fisik dan spiritual kepada Allah SWT.
“Rukuklah kalian hingga tenang dalam rukuk.” (HR. Abu Daud)
6. I’tidal
I’tidal adalah bangkit dari rukuk dan berdiri tegak sebelum sujud. Posisi ini juga harus dilakukan dengan tenang. Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya tuma’ninah dalam setiap gerakan shalat, termasuk i’tidal.
“Kemudian bangkitlah hingga kamu berdiri tegak.” (HR. Bukhari)
7. Sujud Dua Kali
Sujud adalah rukun yang dilakukan dua kali dalam setiap rakaat. Posisi sujud harus dengan tujuh anggota tubuh: dahi, dua tangan, dua lutut, dan dua ujung kaki. Sujud merupakan simbol ketundukan tertinggi seorang hamba kepada Tuhannya.
“Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh tulang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
8. Duduk di Antara Dua Sujud
Setelah sujud pertama, seorang muslim harus duduk dengan tenang sebelum melakukan sujud kedua. Bacaan yang dianjurkan adalah:
“Rabbighfirli, warhamni, wajburni, warfa’ni, warzuqni, wahdini, wa ‘afini, wa’fu ‘anni.”
Duduk ini harus dilakukan dengan tuma’ninah dan tidak terburu-buru.
9. Membaca Tasyahud
Tasyahud adalah bacaan penghormatan kepada Allah dan Rasul-Nya, yang dilakukan di akhir shalat. Bacaan ini mencakup syahadat dan doa untuk Nabi Muhammad SAW. Sebagian ulama membedakan antara tasyahud awal dan tasyahud akhir, namun yang menjadi rukun adalah tasyahud akhir.
10. Duduk Iftirasy saat Membaca Tasyahud
Saat membaca tasyahud, posisi duduk yang benar adalah duduk iftirasy, yaitu dengan kaki kiri dilipat dan diduduki, sementara kaki kanan ditegakkan. Ini adalah tata cara yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan menjadi bagian dari kesempurnaan ibadah shalat.
11. Membaca Shalawat atas Nabi Muhammad SAW
Shalawat atas Nabi Muhammad SAW dalam tasyahud akhir adalah rukun shalat. Minimalnya adalah:
“Allahumma shalli ‘ala Muhammad.”
Namun yang lebih utama adalah membaca shalawat Ibrahimiyah secara lengkap.
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat atas Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad…” (HR. Bukhari)
12. Salam
Salam adalah ucapan “Assalamu ‘alaikum warahmatullah” yang mengakhiri shalat. Salam wajib dilakukan minimal sekali ke arah kanan. Ini menandakan selesainya ibadah shalat.
“Rasulullah SAW menutup shalatnya dengan salam ke kanan dan kiri.” (HR. Abu Daud)
13. Tertib
Tertib berarti melaksanakan rukun-rukun shalat secara berurutan. Jika tertib tidak dijaga, maka shalat menjadi tidak sah. Ini juga yang membedakan antara rukun dan sunnah, karena sunnah tidak membatalkan jika terlewat.
Menjaga 13 rukun shalat adalah bagian dari penyempurnaan ibadah kita kepada Allah SWT. Dengan memahami dan mengamalkannya, kita tidak hanya memastikan sahnya ibadah, tetapi juga meraih kekhusyukan dalam setiap rakaat yang kita lakukan.
Kesadaran akan pentingnya rukun shalat juga menjadi bekal spiritual yang sangat penting dalam menunaikan ibadah haji. Karena selama menjalankan rukun Islam kelima ini, kita akan banyak terlibat dalam shalat berjamaah, shalat sunnah, hingga shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi—dua tempat suci yang keutamaannya berlipat ganda.
Jika Anda memiliki niat untuk menunaikan ibadah haji, pastikan Anda memilih mitra perjalanan yang amanah dan profesional. Arrayyan Travel menawarkan berbagai paket haji reguler dan haji plus dengan layanan terbaik, bimbingan intensif, serta pembimbing berpengalaman yang siap membantu Anda memahami syarat, rukun, dan tata cara ibadah haji secara menyeluruh—termasuk mendalami makna dan pelaksanaan rukun shalat selama berada di Tanah Suci.
Jangan lewatkan kesempatan istimewa ini untuk beribadah secara sah dan mabrur bersama Arrayyan Travel. Hubungi kami sekarang dan raih keberkahan dalam setiap langkah menuju Baitullah.
Doa adalah salah satu bentuk penghambaan manusia kepada Allah SWT. Dalam ajaran Islam, doa memiliki peran penting sebagai sarana untuk memohon ampun, rezeki, serta petunjuk dari Allah SWT. Salah satu doa yang sangat dianjurkan untuk diamalkan adalah doa Nabi Adam AS. Doa ini dikenal sebagai pembuka pintu rezeki sekaligus pintu tobat. Diriwayatkan bahwa Nabi Adam berdoa dengan penuh penyesalan setelah melakukan kesalahan dan diturunkan dari surga ke bumi. Doanya diabadikan dalam Al-Qur’an dan memiliki makna yang sangat mendalam, terutama sebagai bentuk pengakuan dosa dan permohonan ampun kepada Allah SWT.
Doa Nabi Adam Pembuka Rezeki dan Pintu Tobat
Setelah melakukan pelanggaran terhadap larangan Allah, Nabi Adam AS segera menyadari kesalahannya. Dalam keadaan penuh penyesalan dan keikhlasan, beliau memanjatkan doa-doa yang menjadi simbol permohonan ampun serta harapan akan rahmat dan rezeki dari Allah SWT. Berikut adalah dua doa Nabi Adam yang terkenal sebagai pembuka rezeki dan pintu tobat.
1. Doa Nabi Adam Pembuka Rezeki dan Pintu Tobat dari Surah Al-A’raf Ayat 23
Doa ini merupakan salah satu doa paling masyhur yang diucapkan Nabi Adam AS bersama Siti Hawa setelah mereka diturunkan ke bumi. Doa ini tercantum dalam Surah Al-A’raf ayat 23 sebagai berikut:
Latin: Qaalaa rabbanaa zalamnaa anfusanaa wa illam tagfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal-khaasiriin
Artinya: Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
Doa ini mencerminkan kesadaran Nabi Adam atas dosa yang telah dilakukan serta harapan penuh kepada ampunan dan kasih sayang Allah. Bagi umat Muslim, membaca doa ini dengan penuh keyakinan dipercaya dapat membuka pintu rezeki dan mempercepat datangnya pertolongan Allah SWT.
2. Doa Nabi Adam Pembuka Rezeki dan Pintu Tobat Pertama
Doa ini merupakan bentuk permohonan maaf dan pengakuan dosa yang lebih panjang. Dalam doa ini, Nabi Adam menyebutkan kesalahan yang telah dilakukan, menyanjung keagungan Allah, dan berharap untuk diampuni serta dirahmati. Berikut bacaan lengkapnya:
Latin: La ilaha illa anta subhanaka wa bihamdika rabbi ‘amiltu suan wa dzolamtu nafsi faghfirli anta khoirul ghofirin. La ilaha illa anta subhanaka wa bihamdika robbi ‘amiltu suan wa dzolamtu nafsi warhamni innaka arhamur rohimin. La ilaha illa anta subhanaka wa bihamdika robbi ‘amiltu suan wa dzolamtu nafsi fatub ‘alayya innaka antat tawwabur rohim.
Artinya: “Tiada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau dan segala puji untuk-Mu. Tuhanku, aku telah melakukan dosa dan menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku karena Engkau sebaik-baik pemberi ampunan. Tiada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau dan segala puji untuk-Mu. Tuhanku, aku telah melakukan dosa dan menzalimi diriku sendiri, maka kasihanilah aku, sesungguhnya Engkau sebaik-baik pengasih. Tiada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau dan segala puji untuk-Mu. Tuhanku, aku telah melakukan dosa dan menzalimi diriku sendiri, maka terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
Doa ini memiliki kandungan yang sangat lengkap: pengakuan kesalahan, permohonan ampun, permintaan rahmat, dan harapan akan diterimanya taubat. Sangat tepat untuk dibaca dalam setiap kesempatan, khususnya ketika seseorang merasa jauh dari keberkahan atau mengalami kesempitan rezeki.
Keutamaan Doa Nabi Adam Pembuka Rezeki untuk Kekayaan
Mengutip dari buku Dahsyatnya Doa Para Nabi karya Syamsuddin Noor, doa Nabi Adam memiliki banyak keutamaan yang luar biasa. Salah satunya adalah sebagai pembuka rezeki dan penghapus dosa. Doa ini tidak hanya menjadi cerminan ketaatan Nabi Adam, tetapi juga menjadi warisan spiritual bagi umat manusia untuk kembali kepada Allah ketika berada dalam kesalahan atau kekurangan.
Beberapa keutamaannya antara lain:
Mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan membaca doa ini secara rutin, hati menjadi lebih tenang dan hubungan spiritual dengan Allah menjadi lebih kuat.
Membuka pintu rezeki. Doa yang disampaikan dengan penuh keikhlasan dan penyesalan diyakini mampu mendatangkan keberkahan dan kelapangan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Memperoleh ampunan dan rahmat Allah. Karena mengandung pengakuan dosa dan permohonan taubat, doa ini sangat efektif untuk menyucikan hati dan membersihkan jiwa dari dosa.
Doa Nabi Adam adalah pelajaran penting bahwa setiap manusia bisa melakukan kesalahan, namun Allah Maha Pengampun dan Maha Penerima taubat. Dengan terus berdoa, bertobat, dan memperbaiki diri, maka jalan menuju kekayaan lahir dan batin pun akan terbuka.
Sebagai umat Muslim, memperbanyak doa dan permohonan kepada Allah SWT adalah salah satu ikhtiar dalam membuka pintu rezeki dan meraih keberkahan hidup. Doa Nabi Adam AS adalah salah satu amalan yang penuh hikmah dan sarat makna untuk mendekatkan diri kepada Allah serta memohon ampunan dan kelapangan hidup, termasuk dalam hal rezeki. Bagi Anda yang ingin memperdalam spiritualitas dan merasakan langsung pengalaman ibadah di Tanah Suci, menunaikan umroh bisa menjadi langkah besar menuju ketenangan batin dan kemantapan iman. Travel Umroh Arrayyan siap menemani perjalanan suci Anda dengan berbagai paket umroh terbaik, fasilitas lengkap, bimbingan ibadah profesional, serta pelayanan yang amanah dan terpercaya. Segera wujudkan niat suci Anda bersama Arrayyan dan rasakan berkahnya ibadah umroh yang mencerahkan jiwa serta membuka pintu rezeki dari segala arah.
Dalam ajaran agama Islam, terdapat dua fondasi utama yang menjadi dasar keimanan dan praktik kehidupan seorang Muslim, yaitu Rukun Iman dan Rukun Islam. Keduanya merupakan landasan yang tidak dapat dipisahkan karena saling melengkapi: Rukun Iman menyangkut aspek keyakinan dalam hati, sedangkan Rukun Islam menyangkut pelaksanaan ibadah dan perbuatan nyata. Memahami makna dan pengamalan dari kedua rukun ini sangat penting dalam menjalankan kehidupan sebagai Muslim yang taat dan bertakwa kepada Allah SWT.
Pengertian Rukun Iman dan Rukun Islam
Berikut ini adalah pengertian dari rukun iman dan rukun islam, ini penjelasannya!
Pengertian Rukun Iman
Rukun Iman berasal dari kata “rukun” yang berarti dasar atau tiang, dan “iman” yang berarti percaya atau yakin. Jadi, Rukun Iman adalah enam pokok dasar keyakinan yang harus diyakini sepenuh hati oleh setiap Muslim. Keimanan ini bersifat batiniah dan tidak terlihat, namun tercermin dari perilaku dan perbuatan seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut hadis Nabi Muhammad SAW dalam Shahih Muslim dari Umar bin Khattab, saat Jibril datang untuk menguji pengetahuan Rasulullah tentang Islam, disebutkan bahwa iman adalah:
“Engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari kiamat, dan engkau beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim no. 8)
Pengertian Rukun Islam
Sementara itu, Rukun Islam adalah lima perbuatan dasar dalam Islam yang wajib dilakukan oleh setiap Muslim sebagai bukti pengabdian kepada Allah SWT. Rukun Islam merupakan manifestasi nyata dari keimanan seseorang. Ia menjadi bentuk amal dan ibadah yang tampak dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan haji bagi yang mampu.” (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)
6 Rukun Iman
Berikut ini 6 rukun iman yang harus diyakini setiap muslim:
1. Iman kepada Allah
Ini adalah rukun iman yang paling utama. Beriman kepada Allah berarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah adalah Tuhan satu-satunya, tiada sekutu bagi-Nya, dan hanya kepada-Nya segala bentuk ibadah ditujukan. Allah memiliki 20 sifat wajib seperti Maha Esa (Wahdaniyah), Maha Hidup (Hayat), Maha Mengetahui (Ilmu), dan lain-lain.
Iman kepada Allah mencakup juga keyakinan bahwa hanya Allah yang menciptakan, mengatur, dan memelihara alam semesta, serta Dia Maha Adil dan Maha Bijaksana dalam segala keputusan-Nya. Iman ini harus tercermin dalam ibadah yang ikhlas, menjauhi syirik, dan taat kepada perintah-Nya.
2. Iman kepada Malaikat
Malaikat adalah makhluk Allah yang diciptakan dari cahaya dan tidak memiliki hawa nafsu. Mereka selalu taat kepada Allah dan menjalankan tugas-tugas khusus yang diberikan kepada mereka.
Beberapa malaikat dan tugasnya antara lain:
Jibril: menyampaikan wahyu kepada para nabi.
Mikail: mengatur rezeki dan hujan.
Israfil: meniup sangkakala pada hari kiamat.
Izrail: mencabut nyawa makhluk hidup.
Raqib dan Atid: mencatat amal baik dan buruk manusia.
Munkar dan Nakir: menanyai manusia di alam kubur.
Malik: penjaga neraka.
Ridwan: penjaga surga.
Beriman kepada malaikat juga berarti meyakini bahwa mereka hadir dan bekerja di sekitar kita meskipun tidak kasat mata.
3. Iman kepada Kitab-Kitab Allah
Allah menurunkan beberapa kitab suci kepada rasul-Nya sebagai petunjuk hidup bagi umat manusia. Beriman kepada kitab-kitab berarti meyakini bahwa kitab-kitab tersebut adalah wahyu Allah yang benar, meski tidak semuanya masih ada dalam bentuk aslinya.
Kitab-kitab tersebut antara lain:
Taurat: diturunkan kepada Nabi Musa AS
Zabur: kepada Nabi Daud AS
Injil: kepada Nabi Isa AS
Al-Qur’an: kepada Nabi Muhammad SAW
Al-Qur’an adalah kitab terakhir dan menjadi penyempurna serta penutup dari kitab-kitab sebelumnya. Ia dijaga langsung oleh Allah hingga hari kiamat.
4. Iman kepada Rasul
Rasul adalah manusia pilihan Allah yang menerima wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikannya kepada umatnya. Mereka memiliki sifat-sifat terpuji seperti shiddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan), dan fathanah (cerdas).
Ada 25 nabi dan rasul yang wajib diketahui, dari Nabi Adam AS sebagai manusia pertama hingga Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi. Umat Islam harus meneladani akhlak dan dakwah para nabi, khususnya Rasulullah Muhammad SAW yang menjadi suri teladan utama dalam kehidupan.
5. Iman kepada Hari Kiamat
Hari kiamat adalah hari kehancuran alam semesta dan kebangkitan seluruh makhluk untuk diadili oleh Allah SWT. Beriman kepada hari kiamat berarti meyakini bahwa kehidupan dunia ini bersifat sementara, dan akan ada kehidupan akhirat yang kekal.
Tanda-tanda kiamat dibagi menjadi tanda kecil dan tanda besar. Setelah kiamat, manusia akan melewati fase-fase akhirat seperti yaumul hisab (hari perhitungan), yaumul mizan (hari penimbangan amal), syafaat, jembatan shirat, surga dan neraka.
Keyakinan ini mendorong umat Islam untuk memperbanyak amal baik dan meninggalkan perbuatan maksiat.
6. Iman kepada Qada dan Qadar
Qada dan qadar adalah takdir Allah yang telah ditentukan sejak zaman azali. Qada adalah ketetapan Allah, dan qadar adalah rincian dari ketetapan tersebut. Beriman kepada qada dan qadar berarti yakin bahwa segala yang terjadi dalam hidup, baik maupun buruk, merupakan kehendak dan ketetapan Allah.
Namun, iman ini tidak menghilangkan usaha (ikhtiar) manusia. Seorang Muslim tetap wajib berusaha, berdoa, dan tawakal. Keyakinan pada takdir juga menumbuhkan kesabaran dalam menghadapi ujian hidup.
5 Rukun Islam
Berikut ini 5 rukun islam yang harus dipahami setiap muslim di dunia:
1. Membaca Syahadat
Syahadat adalah pernyataan keyakinan yang menjadi pintu masuk Islam, berbunyi:
“Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah.”
Artinya: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Syahadat bukan sekadar ucapan, tetapi harus diikrarkan dengan keyakinan dalam hati dan diamalkan dalam kehidupan. Ia menjadi pondasi dari seluruh ajaran Islam.
2. Mengerjakan Salat
Salat adalah ibadah wajib lima waktu dalam sehari semalam. Salat merupakan tiang agama dan bentuk komunikasi langsung antara seorang hamba dengan Allah SWT.
Shalat yang wajib adalah:
Subuh (2 rakaat)
Zuhur (4 rakaat)
Asar (4 rakaat)
Maghrib (3 rakaat)
Isya (4 rakaat)
Melalui salat, seorang Muslim menjaga kedisiplinan, kesucian, dan meningkatkan keimanan. Salat juga menjadi momen introspeksi dan ketenangan jiwa.
3. Membayar Zakat
Zakat adalah kewajiban mengeluarkan sebagian harta untuk diberikan kepada yang berhak, seperti fakir miskin, mualaf, dan lainnya. Zakat membersihkan harta dan jiwa, serta menumbuhkan solidaritas sosial.
Jenis zakat antara lain:
Zakat fitrah: wajib bagi setiap Muslim saat Idul Fitri.
Zakat mal: zakat harta, seperti emas, penghasilan, atau hasil pertanian.
Zakat berbeda dari sedekah karena bersifat wajib dan memiliki nisab (batas minimum) serta haul (waktu setahun).
4. Menjalankan Puasa
Puasa Ramadhan adalah kewajiban menahan diri dari makan, minum, dan perbuatan yang membatalkan dari fajar hingga maghrib selama bulan Ramadhan. Puasa mengajarkan pengendalian diri, empati terhadap yang miskin, dan meningkatkan ketakwaan.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Selain puasa wajib, ada puasa sunnah seperti Senin-Kamis, Arafah, dan Asyura yang dapat menambah pahala dan kedekatan kepada Allah.
5. Melaksanakan Haji bagi yang Mampu
Haji adalah ibadah yang dilakukan di Makkah pada bulan Dzulhijjah bagi Muslim yang mampu secara fisik dan finansial. Haji hanya wajib sekali seumur hidup.
Rukun haji meliputi:
Ihram
Wukuf di Arafah
Tawaf
Sa’i antara Safa dan Marwah
Tahallul (mencukur rambut)
Haji menyatukan umat Islam dari seluruh dunia dalam satu waktu dan tempat, menumbuhkan persatuan, kesederhanaan, serta kecintaan kepada Allah SWT.
Rukun Iman dan Rukun Islam adalah dua pilar utama yang menjadi fondasi keislaman seseorang. Rukun Iman mengajarkan apa yang harus diyakini, sedangkan Rukun Islam mengajarkan apa yang harus diamalkan. Keduanya saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan.
Seorang Muslim sejati tidak hanya mengucap syahadat, namun juga meyakini kebenaran iman dan menjalankan Islam secara menyeluruh. Semakin mendalam pemahaman terhadap Rukun Iman dan Rukun Islam, semakin kuat pula fondasi spiritual seorang Muslim dalam menghadapi kehidupan dunia dan akhirat.
Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang istiqamah dalam keimanan dan amal salih, serta memperoleh ridha Allah SWT. Aamiin.
Memahami dan mengamalkan Rukun Iman serta Rukun Islam adalah pondasi utama bagi setiap Muslim dalam menjalani kehidupan yang diridhai Allah. Salah satu puncak pengamalan dari Rukun Islam adalah menunaikan ibadah haji bagi yang mampu. Jika Anda tengah merencanakan ibadah haji dengan nyaman, aman, dan sesuai syariat, Arrayyan Travel hadir sebagai solusi terbaik. Dengan berbagai pilihan paket haji unggulan yang profesional dan terpercaya, ArRayyan Travel berkomitmen membantu Anda mewujudkan niat suci ke Tanah Suci dengan layanan bimbingan ibadah yang mendalam, akomodasi terbaik, serta dukungan tim berpengalaman. Percayakan perjalanan spiritual Anda bersama Arrayyan Travel – karena beribadah adalah hak istimewa, dan kami hadir untuk memuliakannya.
Shalat Jumat adalah salah satu ibadah yang memiliki keistimewaan dan kedudukan penting dalam Islam. Tidak hanya menggantikan shalat Dhuhur pada hari Jumat, namun pelaksanaannya juga diatur dengan ketentuan khusus yang berbeda dari shalat fardhu lainnya. Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap ketentuan shalat Jumat, mulai dari dalil, waktu, niat, hingga syarat sah dan wajibnya.
Dalil Shalat Jumat
Shalat Jumat memiliki landasan yang sangat kuat dalam syariat Islam. Di antara dalilnya adalah hadits dari Abul Ja’di ad-Dhamri, di mana Rasulullah SAW bersabda:
من ترك ثلاث جمع تهاونا بها طبع الله على قلبه
Siapa pun yang meninggalkan shalat Jumat tiga kali karena meremehkannya, maka Allah Ta’âlâ akan mengecap (menutup) hatinya (sehingga tak mampu menerima hidayah).” (HR Ahmad dan al-Hakim, hadits hasan)
Hadits lain dari Jabir bin Abdillah RA menyatakan:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka ia wajib shalat Jumat pada hari Jumat, kecuali bagi orang sakit, musafir, anak kecil, atau budak…” (HR al-Baihaqi)
Karena keutamaan dan penekanan syariat terhadap shalat Jumat, ulama besar seperti Syekh Zainuddin al-Malibari menyatakan bahwa “Shalat Jumat adalah shalat yang paling utama di antara shalat lainnya.”
Hari Mulia
Hari Jumat adalah hari paling mulia dalam sepekan. Rasulullah SAW bersabda:
“Hari terbaik di mana matahari terbit di hari itu adalah hari Jumat. Pada hari itulah Nabi Adam AS diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan dari surga, dan hari Jumat pula adalah hari terjadinya kiamat.” (HR Ahmad)
Hari Jumat disebut oleh para malaikat sebagai Yaumul Mazîd (hari bonus besar-besaran) karena banyaknya keberkahan, rahmat, dan karunia yang Allah turunkan pada hari itu.
Niat Shalat Jumat
Niat dalam shalat Jumat dibedakan berdasarkan posisi orang yang shalat, apakah sebagai imam atau makmum.
“Saya shalat Jumat sebagai imam karena Allah Ta’ala.”
Jika seseorang terlambat dan tidak sempat satu rakaat bersama imam, ia wajib menyempurnakan shalatnya menjadi shalat Dhuhur empat rakaat.
Waktu Pelaksanaan
Waktu pelaksanaan shalat Jumat sama dengan waktu shalat Dhuhur, yaitu dimulai dari tergelincirnya matahari (zawal) hingga bayangan suatu benda sama panjang dengan bendanya. Namun, apabila waktu tidak cukup untuk menyelesaikan dua rakaat dan dua khutbah, atau ada keraguan waktu sudah habis, maka shalat Jumat harus diganti dengan shalat Dhuhur.
Syarat Shalat Jumat
Shalat Jumat memiliki tiga kategori syarat:
1. Syarat Wajib
Yaitu syarat yang menentukan apakah seseorang diwajibkan shalat Jumat atau tidak. Ada tujuh syarat wajib:
Islam
Baligh
Berakal sehat
Merdeka
Laki-laki
Sehat
Bermukim
Orang yang hanya menetap sementara (muqîm) seperti santri atau pedagang tidak diwajibkan, berbeda dengan orang yang berdomisili (mustauthin) yang tidak berniat meninggalkan daerah tersebut.
2. Syarat Sah
Syarat ini menentukan apakah shalat Jumat yang dilakukan sah secara syariat. Di antaranya:
Dilaksanakan pada waktu Dhuhur
Diadakan di daerah pemukiman
Jumlah jamaah minimal 40 orang laki-laki, baligh, merdeka, dan bermukim
Dilakukan berjamaah
Tidak ada dua pelaksanaan dalam satu wilayah kecuali darurat
Didahului dengan dua khutbah yang memenuhi syarat dan rukun
3. Syarat In’iqâd
Syarat ini menunjukkan apakah shalat Jumat tersebut menggugurkan kewajiban shalat Dhuhur bagi jamaah atau tidak. Syarat ini terpenuhi jika seluruh syarat wajib dan sah juga terpenuhi. Ulama membagi status jamaah shalat Jumat dalam beberapa golongan:
Wajib, sah, dan in’iqâd: Mustauthin laki-laki, sehat, baligh
Wajib dan sah, tapi tidak in’iqâd: Muqîm (tidak berdomisili tetap)
Wajib tapi tidak sah atau in’iqâd: Orang murtad
Tidak wajib, tidak sah, tidak in’iqâd: Orang gila, anak kecil belum tamyiz
Tidak wajib, sah tapi tidak in’iqâd: Perempuan, anak tamyiz, musafir
Tidak wajib, sah dan in’iqâd: Orang sakit atau uzur
Dengan memahami kategori ini, kita dapat lebih berhati-hati dalam memastikan apakah shalat Jumat yang kita kerjakan benar-benar memenuhi semua aspek syariat atau tidak.
Setelah memahami semua ketentuan shalat Jumat, mulai dari syarat wajib hingga syarat sah dan in’iqâd, penting bagi kita untuk selalu menjaga kualitas ibadah, terutama saat berada di tempat-tempat suci seperti Makkah dan Madinah.
Menunaikan umroh bukan hanya soal perjalanan fisik, tetapi juga menyempurnakan ibadah dengan pemahaman yang benar. Bersama Arrayyan Travel, kamu akan dibimbing oleh pembimbing berpengalaman dan berlandaskan ilmu syar’i agar setiap ibadah, termasuk shalat Jumat di Masjidil Haram, dapat kamu laksanakan dengan sah dan sempurna.
Pilih Paket Umroh Arrayyan Travel yang sesuai dengan kebutuhanmu. Nikmati kenyamanan, fasilitas eksklusif, serta panduan ibadah yang sesuai syariat di setiap langkah perjalanan. Karena ibadah yang sah adalah kunci terkabulnya doa dan diterimanya amal.
Sholat merupakan ibadah paling utama dalam Islam yang menjadi tiang agama dan pembeda antara seorang Muslim dan non-Muslim. Dalam setiap pelaksanaannya, sholat memiliki ketentuan-ketentuan yang wajib dipenuhi agar ibadah tersebut diterima oleh Allah SWT. Dua aspek penting yang harus diperhatikan dalam sholat adalah syarat wajib dan syarat sah. Syarat wajib adalah ketentuan yang menjadikan seseorang terbebani kewajiban sholat, sedangkan syarat sah adalah ketentuan yang menentukan apakah sholat tersebut diterima. Artikel ini akan mengulas keduanya secara lengkap agar kita bisa lebih memahami pentingnya memenuhi syarat-syarat dalam menjalankan ibadah sholat.
Syarat Wajib Sholat
Syarat wajib sholat adalah kondisi atau keadaan yang membuat seseorang dikenai kewajiban melaksanakan sholat. Jika syarat-syarat ini belum terpenuhi, maka seseorang belum diwajibkan untuk sholat. Mengetahui dan memahami syarat wajib ini penting agar kita bisa menyampaikan ajaran Islam dengan tepat dan adil, terutama dalam hal mendidik anak-anak dan orang-orang dengan kebutuhan khusus.
1. Islam
Syarat pertama agar seseorang diwajibkan sholat adalah beragama Islam. Sholat merupakan bentuk ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah SWT, dan tidak sah jika dilakukan oleh orang yang tidak beriman kepada-Nya. Oleh karena itu, orang non-Muslim tidak memiliki kewajiban untuk sholat, dan sholat mereka tidak dianggap sah sampai mereka mengucapkan dua kalimat syahadat dan masuk Islam.
2. Balig
Seseorang diwajibkan sholat setelah mencapai usia balig atau dewasa secara syariat. Tanda-tanda balig bisa berupa mimpi basah bagi laki-laki, haid bagi perempuan, atau mencapai usia 15 tahun hijriyah jika belum muncul tanda-tanda fisik tersebut. Namun, meskipun anak belum balig, Islam sangat menganjurkan para orang tua untuk membiasakan anak-anak sholat sejak dini, sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW: “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk sholat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (dengan pukulan yang mendidik) jika tidak sholat ketika berusia sepuluh tahun.” (HR. Abu Dawud)
3. Berakal
Syarat wajib berikutnya adalah berakal sehat. Orang yang mengalami gangguan jiwa atau tidak mampu membedakan antara benar dan salah tidak diwajibkan sholat. Dalam hal ini, Allah SWT tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Oleh karena itu, orang gila atau dalam keadaan tidak sadar (misalnya pingsan dalam waktu lama) tidak berdosa karena meninggalkan sholat selama kondisinya demikian.
Syarat Sah Sholat
Berbeda dengan syarat wajib, syarat sah sholat adalah kondisi yang harus dipenuhi agar sholat dianggap benar dan diterima oleh Allah. Seseorang bisa saja wajib sholat (misalnya seorang Muslim yang sudah balig dan berakal), tetapi jika tidak memenuhi syarat sah, maka sholatnya tidak diterima dan harus diulang. Berikut adalah lima syarat sah sholat yang wajib diketahui dan diamalkan oleh setiap Muslim.
1. Suci Badan dari Hadas dan Najis
Syarat sah sholat yang pertama adalah suci dari hadas besar dan kecil serta najis yang menempel di badan. Hadas kecil seperti buang angin atau buang air kecil harus dihilangkan dengan berwudhu, sedangkan hadas besar seperti junub atau haid harus dibersihkan dengan mandi wajib. Selain itu, badan juga harus bebas dari najis seperti darah, kotoran hewan, atau air seni. Jika seseorang sholat dalam keadaan hadas atau najis tanpa membersihkannya terlebih dahulu, maka sholatnya tidak sah.
2. Menutup Aurat dengan Pakaian yang Suci
Menutup aurat adalah kewajiban dalam setiap pelaksanaan sholat. Aurat laki-laki saat sholat adalah antara pusar hingga lutut, sedangkan aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Pakaian yang dikenakan juga harus bersih dari najis dan tidak transparan. Selain menutup aurat secara fisik, penting juga memastikan bahwa pakaian yang digunakan suci secara hukum Islam agar ibadah diterima.
3. Berada di Tempat yang Suci
Tempat pelaksanaan sholat juga harus suci dari najis. Tidak sah sholat di tempat yang terkena najis seperti tanah yang ada kotoran hewan, masjid yang basah oleh air seni, atau tempat tidur yang bernajis. Oleh karena itu, sebelum melaksanakan sholat, sangat penting memastikan bahwa area tempat kita sujud dan berdiri benar-benar bersih dan layak digunakan untuk ibadah.
4. Telah Masuk Waktu Sholat
Sholat hanya sah jika dilakukan dalam waktu yang telah ditentukan. Masing-masing waktu sholat lima waktu memiliki awal dan akhir yang telah ditetapkan. Sholat sebelum waktunya masuk atau setelah waktunya habis (tanpa udzur) dianggap tidak sah. Mengetahui waktu sholat dengan tepat bisa dilakukan dengan melihat posisi matahari, mendengar adzan, atau menggunakan aplikasi jadwal sholat terpercaya.
5. Menghadap Kiblat
Syarat sah terakhir adalah menghadap kiblat, yaitu arah Ka’bah di Masjidil Haram, Makkah. Menghadap kiblat menunjukkan kesatuan arah dan tujuan umat Islam dalam beribadah. Bagi yang tidak mengetahui arah kiblat secara pasti, disyariatkan untuk berijtihad (berusaha semampunya), dan jika ternyata salah arah setelah sholat, maka tidak perlu mengulang selama sudah ada usaha untuk mencari arah yang benar.
Mengetahui dan memahami syarat wajib dan sah sholat bukan hanya penting dalam konteks ibadah harian, tetapi juga menjadi landasan spiritual yang kuat dalam menapaki perjalanan ibadah lainnya seperti umroh dan haji. Ibadah umroh mencakup pelaksanaan sholat di tempat-tempat suci yang penuh berkah seperti Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, di mana kekhusyukan dan kesempurnaan ibadah sangat dianjurkan.
Jika Anda merencanakan perjalanan spiritual ke Tanah Suci, pastikan Anda telah memahami syarat-syarat sholat dengan baik sebagai bekal utama. Arrayyan Travel hadir sebagai sahabat terbaik perjalanan ibadah Anda. Dengan paket umroh lengkap, aman, dan terpercaya, Arrayyan Travel tidak hanya mengurus logistik perjalanan, tetapi juga membimbing Anda secara spiritual agar ibadah umroh Anda sah, sempurna, dan penuh makna.
Hubungi Arrayyan Travel sekarang dan raih pengalaman umroh yang tidak hanya nyaman secara fisik, tetapi juga memuaskan secara ruhani!
Madinah, kota suci kedua setelah Mekkah, merupakan salah satu tujuan utama umat Islam dari seluruh dunia. Setiap tahun, jutaan jemaah datang untuk menunaikan ibadah umrah dan ziarah ke Masjid Nabawi serta berbagai situs bersejarah Islam lainnya. Bagi para jemaah yang ingin mengeksplorasi kota dengan nyaman dan efisien, memahami pilihan transportasi umum terbaik selama di Madinah sangat penting.
Transportasi yang tepat tidak hanya membantu mobilitas jemaah menjadi lebih mudah, tetapi juga meningkatkan kenyamanan dan ketenangan dalam menjalankan ibadah. Berikut ini adalah lima jenis transportasi umum terbaik yang bisa menjadi pilihan selama Anda berada di Madinah.
Opsi Transportasi Umum di Madinah
Transportasi di Madinah telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah Arab Saudi terus berinovasi dalam memberikan fasilitas terbaik bagi para jemaah. Mulai dari bus kota yang terjangkau hingga aplikasi transportasi online yang praktis, semua tersedia untuk memudahkan perjalanan Anda selama berada di kota suci ini.
1. Bus Kota
Bus kota adalah salah satu moda transportasi umum paling ekonomis dan ramah lingkungan yang bisa digunakan di Madinah. Layanan ini dikelola oleh Saudi Public Transport Company (SAPTCO) dan sudah dilengkapi dengan sistem navigasi modern, AC, dan jadwal yang teratur.
Bus-bus ini melayani berbagai rute strategis, termasuk yang melewati Masjid Nabawi, stasiun kereta Haramain, dan beberapa area penginapan populer di kota. Dengan biaya yang sangat terjangkau—bahkan gratis untuk beberapa rute tertentu saat musim haji—bus kota menjadi pilihan ideal untuk jemaah yang ingin berhemat namun tetap nyaman.
Kelebihan lain dari bus kota di Madinah adalah tingkat keamanannya yang tinggi dan jadwal keberangkatan yang relatif tepat waktu. Selain itu, tersedia juga bus khusus wanita dan anak-anak pada rute tertentu, guna menjaga kenyamanan seluruh penumpang.
2. Taksi
Taksi tetap menjadi pilihan favorit bagi banyak jemaah yang mengutamakan kenyamanan dan fleksibilitas waktu. Di Madinah, taksi mudah ditemukan hampir di semua sudut kota, terutama di area Masjid Nabawi dan hotel-hotel sekitar.
Harga taksi di Madinah umumnya masih terjangkau, namun tetap disarankan untuk menanyakan tarif terlebih dahulu sebelum naik atau menggunakan taksi dengan argo digital. Selain taksi konvensional, tersedia juga taksi premium dengan kendaraan yang lebih nyaman dan sopir yang bisa berbahasa Inggris.
Bagi jemaah lansia atau keluarga dengan anak kecil, taksi adalah solusi praktis karena bisa langsung mengantar ke lokasi tujuan tanpa perlu berjalan jauh atau transit.
3. Kereta Api
Jika Anda merencanakan perjalanan dari Madinah ke Mekkah atau Jeddah, kereta api Haramain High-Speed Railway adalah pilihan tercepat dan ternyaman. Jalur ini menghubungkan kota-kota suci dalam waktu sekitar 2,5 jam, menjadikannya solusi ideal dibandingkan perjalanan darat yang lebih lama.
Stasiun Madinah terletak tidak jauh dari pusat kota dan dapat diakses dengan mudah menggunakan bus atau taksi. Fasilitas dalam kereta pun sangat modern, dilengkapi dengan AC, kursi nyaman, koneksi internet, dan ruang ibadah.
Menggunakan kereta api bukan hanya efisien dari segi waktu, tapi juga memungkinkan jemaah menikmati pemandangan gurun Arab yang menawan sepanjang perjalanan.
4. Aplikasi Transportasi
Di era digital ini, aplikasi transportasi seperti Uber dan Careem menjadi pilihan yang sangat populer di kalangan jemaah, terutama generasi muda. Aplikasi ini menawarkan kemudahan dalam memesan kendaraan langsung dari ponsel dengan estimasi harga dan waktu tempuh yang jelas.
Kelebihan menggunakan aplikasi transportasi adalah transparansi biaya, kenyamanan kendaraan, serta fitur pelacakan dan rating pengemudi yang menambah rasa aman. Jemaah tidak perlu repot menunggu di jalanan atau tawar-menawar harga, cukup beberapa klik dan kendaraan akan segera menjemput di titik lokasi.
Careem bahkan menyediakan layanan khusus untuk wanita dan keluarga, sehingga privasi dan kenyamanan tetap terjaga selama perjalanan.
5. Bus Wisata
Bagi jemaah yang ingin melakukan ziarah ke tempat-tempat bersejarah di Madinah, bus wisata adalah pilihan sempurna. Layanan ini biasanya disediakan oleh agen travel atau pemerintah setempat, dan mengunjungi tempat-tempat penting seperti Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Jabal Uhud, dan pemakaman Baqi.
Bus wisata umumnya sudah dilengkapi dengan pemandu wisata berbahasa Indonesia, Inggris, atau Arab, yang akan menjelaskan sejarah dan keutamaan setiap lokasi yang dikunjungi. Rute ziarah ini menjadi salah satu kegiatan favorit jemaah karena tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga memperdalam makna spiritual perjalanan umrah.
Beberapa agen travel terpercaya seperti Arrayyan Travel telah memasukkan layanan bus wisata dalam paket umroh mereka, lengkap dengan itinerary yang terorganisir dan pengaturan waktu yang efisien.
Menggunakan transportasi umum terbaik selama di Madinah tidak hanya mendukung kelancaran perjalanan, tetapi juga membantu menjaga stamina dan fokus dalam menjalankan ibadah. Kenyamanan dan efisiensi dalam mobilitas menjadi faktor penting, apalagi bagi jemaah yang ingin menjelajahi keindahan spiritual kota suci ini tanpa beban logistik.
Sebagai penyedia layanan umrah terpercaya, Arrayyan Travel memahami pentingnya pengalaman perjalanan yang lancar dan terorganisir. Melalui paket umroh eksklusifnya, Arrayyan Travel tidak hanya menawarkan akomodasi dan bimbingan ibadah, tetapi juga menyediakan transportasi terbaik selama di Madinah, termasuk layanan bus wisata, antar-jemput bandara, hingga bantuan penggunaan aplikasi transportasi digital.
Dengan memilih Arrayyan Travel, Anda tidak perlu khawatir soal transportasi—semuanya telah disiapkan secara profesional untuk mendukung ibadah yang lebih khusyuk dan penuh berkah. Jadikan setiap langkah Anda di tanah suci sebagai bagian dari perjalanan spiritual yang nyaman, aman, dan berkesan bersama Arrayyan Travel.